Tidak Ingin Bermuka Dua Dalam Merajut Asa

Tidak Ingin Bermuka Dua Dalam Merajut Asa

Tidak Ingin Bermuka Dua Dalam Merajut Asa

Kini aku terjebak

Aku berada di dunia yang penuh dengan wajah manis yang berpura-pura..

Wajah yang bermuka dua, tiga, empat atau bahkan lebih..

Haruskan ku mengikuti arus mereka???

Dengan wajah yang bermuka dua, tiga atau bahkan empat???

Sebenarnya bukan aku tak pernah mencoba..

Pernah .. Pernah ku coba..

Namun kekecewaan yang ku dapatkan..

Mungkin karna ku tak bisa bersandiwara..

Tak bisa bermuka dua, tiga maupun empat..

Dan ku tidak mau seperti itu.

Sakit hati memang..

Kecewa sangat yang ku dapatkan..

Sedih dan pilu yang selalu bersemayam di hati,,

(Baca juga : Kabut Perangkap Jiwa)

Terus apa yang meski aku lakukan???

Apakah aku harus berdiam diri dan berpikikir didalam kegelapan ku???

Aku mencoba berusaha sendiri dengan arus ku,,

Arus yang ku tahu cuma berwajah satu..

Tiada sandiwara.

Tiada berpura-pura..

Dan tiada bermohon-mohon kepada dia,dia atau dia..

Ku Tidak Ingin Bermuka Dua dalam Merajut Asa

Letih memang..

Tapi ku yakin akan arus ku..

Yang ku tahu,,tuhan tidak pernah membiarkan hambanya menderita.

Ku yakin akan arus ku akan membawa ku dimana letaknya puncak tebing yang tinggi itu..

Membawa ku ke tempat impianku..

Dengan bermohon-mohon pada Tuhan yang Maha Kuasa

Ku punya tuhan tempat bersandarku..

Tempat penolongku,,bukan dia, dia, maupun dia..

Yang ku tahu kepastian itu hanya milik Tuhan..

Bukan dia, dia, maupun dia,,

(Baca juga puisi lain pada : Kebaikan Seorang Ibu)

Ternyata ku harus membuktikan

Kalau bukan dia, dia , maupun dia tempat mengaduku..

Tempat merebahkan nasibku,,

Tempat ku meminta dikasihani..

Semuanya kuserahkan kepada Tuhan akan arus ku

Walau ku sendiri berpikir dalam kegelapan ku.

      Itulah postingan puisi tentang Tidak Ingin Bermuka Dua dalam Merajut Asa yang dapat kami bagikan pada kesempatan kali ini dengan harapan semoga postingan puisi tentang Tidak Ingin Bermuka Dua dalam Merajut Asa diatas dapat bermanfaat sebagai bahan renungan bagi kiat. (Baca juga puisi lain dalam versi Bahasa Inggris pada : Smiling Infectious World)

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[smartslider3 slider=2]