Terpaku Diatas Hamparan Duka

Terpaku Diatas Hamparan Duka

Terpaku Diatas Hamparan Duka

Memperhatikan kemilau bintang gemerlap

Dan mendengarkan desiran angin malam.

Seolah mereka mencibir dan mencaci.

Serta memaki lara dan gundah di hatiku.

(Baca juga : Elegi Pohon Randu)

Dengan berkata : ”Apa gunanya kau menyesal.” . . . . .

“Apa perlunya kau gulana.” . . . . .

“Apa yang kau sesali.” . . . . .

“Sedang waktu tak bisa berjalan mundur.”

Terus menerus mereka berceloteh layaknya burung gereja di pagi hari.

“Tak ada waktu untuk mengukir sejarah masa itu.”

Aku terus bertanya tanya didalam hati.

”Kenapa kau tanam benih cinta dihalaman rumah?”

“Kenapa kau ukir relief kasih diantara teras rumah?”

Memang rumah dan teras ini terlihat indah di luar.

Namun begitu kosong dan senyap didalamnya.

(Baca juga puisi lain pada : Ayah ku Ingat dalam Relung Hati)

Aku terpaku diatas bumi.

Aku terdiam diantara awan.

Diatas hamparan luka.

Sampai kapan aku hidup dengan ke omong kosongan belaka???

Aku masih Terpaku Diatas Hamparan Duka.

      Itulah postingan puisi tentang Terpaku Diatas Hamparan Duka yang dapat kami bagikan pada kesempatan kali ini dengan harapan para pembaca setia dapat menikmati puisi diatas dan mengambil hikmah dari puisi tersebut. (Baca juga puisi lain dalam versi Bahasa Inggris pada : The Most Important Final Test for Human)

You may also like...

2 Responses

  1. […] (Baca juga puisi lain pada : Terpaku Diatas Hamparan Duka) […]

  2. […] Bila orang yang kita cinta sedang menangis, kita akan turut juga menangis. Namun bila orang yang kita suka sedang menangis, kita akan cuba untuk membuat dia gembira. (Baca juga artikel lain pada : Terpaku Diatas Hamparan Duka) […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *