Tari Gandrung Tarian Tradisional Banyuwangi

Tari Gandrung Tarian Tradisional Banyuwangi

Tari Gandrung Tarian Tradisional Banyuwangi

Tari Gandrung Tarian Tradisional Banyuwangi

       Tari tradisional yang beraneka ragam di Indonesia merupakan sebuah kekayaan kebudayaan bangsa Indonesia. Tarian dari setiap daerah di nusantara memiliki nama dan sifat tari yang berbeda-beda. Diantaranya yaitu seni tari dari daerah Jawa timur, salah satu tari tradisonal yang ada di daerah ini yaitu Tari Gandrung Banyueangi. Berikut ini akan dibahas mengenai Tari Gandrung, sebuah tarian khas dari Banyuwang, Jawa Timur. (Baca juga : Tari Kipas Pakarena Tarian Tradisional Sulawesi Selatan)

Sejarah Asal-usul Tari Gandrung Banyuwangi

       Dalam sejarahnya, Tari Gandrung Banyuwangi sudah lama dikenal oleh masyarakat Banyuwangi, Tari Gandrung banyak dipengaruhi oleh budaya Bali semasa Kerajaan Blambangan. Kerajaan Blambangan sendiri berdiri pada abad ke-16 yang merupakan kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa. Kerajaan Blambangan itu berpusat di ujung Pulau Jawa.

       Dikutip dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Tari Gandrung adalah khas Banyuwangi yang merupakan perwujudan rasa syukur masyarakat setelah panen. Pada mulanya tarian ini adalah bentuk syukur kepada Dewi Sri atau Dewi Padi. Gandrung juga berarti ‘yang disenangi atau digandrungi’ sehingga tarian ini mengungkapkan suka cita.

       Menurut tulisan Scholte tahun 1927, Tari Gandrung mulanya ditarikan oleh pria yang berdandan seperti wanita. Instrumen utama tarian ini adalah gendang atau gamelan khas Osing. Ketika agama Islam masuk wilayah Blambangan, penari Gandrung laki-laki mulai perlahan hilang.. (Baca juga artikel lain pada : Beauty of Cave or Goa Gelatik)

Tata Gerak Tari Gandrung Banyuwangi

Pertunjukan Gandrung yang asli terbagi atas tiga bagian yaitu jejer, maju atau ngibing dan seblang subuh

Jejer

       Bagian pertama disebut sebagai jejer. Bagian ini merupakan pembuka seluruh pertunjukan gandrung. Pada bagian ini, penari menyanyikan beberapa lagu dan menari secara solo.

Maju

       Babak pertengahan disebut dengan istilah maju atau ngibing. Pada babak ini para penari mulai bergerak menarikan tarian seraya memainkan selendangnya. Para penari akan bergerak seperti jalan pelan maju sambil menggerak-gerakkan selendang dengan kepala juga bergerak seperti geleng-geleng.

Seblang subuh

       Bagian ini merupakan penutup dari seluruh rangkaian pertunjukan gandrung Banyuwangi. Gerakan yang dominan pada seblang subuh adalah gerak perlahan yang penuh penghayatan. Kipas yang dibawa penari akan dimainkan pada babak Seblang Subuh.

Tata Busana Penari Gandrung Banyuwangi

Bagian Tubuh

       Busana untuk tubuh terdiri dari baju yang terbuat dari beludru berwarna hitam, dihias dengan ornamen kuning emas, serta manik-manik yang mengkilat dan berbentuk leher botol yang melilit leher hingga dada, sedang bagian pundak dan separuh punggung dibiarkan terbuka. Di bagian leher tersebut dipasang ilat-ilatan yang menutup tengah dada dan sebagai penghias bagian atas. Pada bagian lengan dihias masing-masing dengan satu buah kelat bahu dan bagian pinggang dihias dengan ikat pinggang dan sembong serta diberi hiasan kain berwarna-warni sebagai pemanisnya. Selendang selalu dikenakan di bahu.

Bagian Kepala

       Kepala dipasangi hiasan serupa mahkota yang disebut omprok yang terbuat dari kulit kerbau yang disamak dan diberi ornamen berwarna emas dan merah serta diberi ornamen tokoh Anthasena, putra Bima yang berkepala manusia raksasa namun berbadan ular serta menutupi seluruh rambut penari gandrung. (Baca juga artikel lain pada : Cinta Tidak Harus Memiliki)

       Selanjutnya pada mahkota tersebut diberi ornamen berwarna perak yang berfungsi membuat wajah sang penari seolah bulat telur, serta ada tambahan ornamen bunga yang disebut cundhuk mentul di atasnya.

Bagian Bawah

       Penari gandrung menggunakan kain batik dengan corak bermacam-macam. Namun corak batik yang paling banyak dipakai serta menjadi ciri khusus adalah batik dengan corak gajah oling, corak tumbuh-tumbuhan dengan belalai gajah pada dasar kain putih yang menjadi ciri khas Banyuwangi. Sebelum tahun 1930-an, penari gandrung tidak memakai kaus kaki, namun semenjak dekade tersebut penari gandrung selalu memakai kaus kaki putih dalam setiap pertunjukannya.

Properti Tari Gandrung

       Properti paling utama dalam tari gandrung ada 2, yaitu selendang (sampur) dan kipas. Di masa silam, kipas yang digunakan berjumlah 2 dan dipegang di tangan kiri dan kanan. Namun, setelah mengalami beberapa arasemen seringkali tarian ini hanya dilengkapi dengan 1 kipas saja, itupun hanya digunakan pada bagian tertentu dalam tarian, khususnya pada bagian seblang subuh.

       Itulah pembahasan singkat tentang Tari Gandrung Tarian Tradisional Banyuwangi, Jawa Timur yang dapat kami bagikan pada kesempatan kali ini dengan harapan semoga bahasan singkat tentang Tari Gandrung Tarian Tradisional Banyuwangi, Jawa Timur diatas dapat mebawa manfaat bagi kita untuk mengenal lebih dalam tentang Tari Gandrung Banyuwangi Jawa Timur. (Baca juga artikel lain pada : Soal PTS PAI Kelas 8 Semester 1)

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *