Taman Sepi Perusak Cinta

Taman Sepi Perusak Cinta

Taman Sepi Perusak Cinta

      Setiap malam Virly habiskan waktu di pangkuan sepi di suatu taman dimana ia mengukirkan kisah cintanya. Tempat itu satu-satunya yang menjadi kenangan dan peraduannya di antara siang dan malam. Ia sebut taman itu sebagai Taman Sepi Perusak Cinta. Nama itu ia gunakan sebagai nama yang diambil dari kesepiannya mulai sejak Rangga, kekasihnya meninggalkan dia. Tidak seorangpun yang tahu tentang taman itu. Hanya Rangga yang kini jauh yang tahu tentang taman itu berada. Sebab, dia yang mengajaknya dulu ke sana sejak perayaan ulang tahun Virly. (Baca juga : Merpati dan Burung Hantu)

      Di taman sepi itu Virly luapkan segala yang menjadi kekecewaannya. Kekecewaan yang disebabkan olehnya sendiri. “Dia yang membuat aku seperti sekarang ini. Semua tentang ia yang paling aku sayang.” Gundahnya.

      Sejak kepergian Rangga, Virly telah berjanji pada dirinya: “Siapapun yang mendekatiku maka akan aku terima, bagaimanapun rupanya. aku tidak peduli, dia kaya atau miskin, tampan atau jelek, tinggi atau pendek, atau apapun rupanya aku akan terima dia sepenuh hati sebagai pelarian hidupku.” Janjinya.

      Hingga suatu hari seorang laki-laki datang melamarnya, walaupun Virly belum tahu siapa dirinya, apa pekerjaannya, status, kesehariannya seperti apa dan yang lainnya. ia hanya bertemu sekali di halte bus, itupun hanya sekadar berkenalan saja. Setelah itu, mereka harus berpisah di tempat itu juga, ketika Bus datang dan ia kembali menunggu taksi. Setelah itu, mereka tidak pernah lagi dipertemukan.

      “Namun entah bagaimana ia tahu tempat tinggalku dan langsung melamarku?” Tanyanya heran sendiri.

      Tanpa pikir panjang ia terima dia apa adanya. Karena itu sudah menjadi sumpahnya pada langit dan ia tepati.

      Merekapun menikah, hidup bahagia dan dikaruniai seorang anak. Anak yang menjadi korban pernikahan mereka. Anak yang tidak tahu yang sebenarnya. kebenaran yang ia harap tidak akan terungkap.

      Delapan tahun mereka menikah dan selama itu pula Virly menyimpan rahasia dari suami dan anaknya. Virly tidak tega memberitahukan yang sebenarnya. Jika suaminya tahu, pastilah ia akan sangat kecewa padanya, hatinya akan hancur karena kebohongannya selama ini.

      “Anakku akan bertanya siapa sesungguhnya ayahnya. Di saat itulah rumah tanggaku akan berantakan seperti kaca yang pecah dan gelombang yang menghantam batu karang. Karena itu, suamiku tidak perlu tahu yang sebenarnya, begitu juga anakku. Mereka sudah hidup bahagia. Namun, bayang-bayang kegelisahan terkadang menggegerkan otak dan membisikiku, bahwa nantinya pasti mereka akan tahu yang sebenarnya. Tapi selama ini aku bisa menyimpan rahasia itu dalam-dalam. Cuma aku yang tahu, tidak mungkin rahasia itu akan sampai ke telinga suamiku. Rahasia yang akan menghancurkan rumah tanggaku dan merenggut kebahagiaan kami.” Cemasnya Virly dalam gelisah.

      “Sudahlah! Aku lebih baik tidak mempertengkarkannya dengan ketakutanku. Kupikir semuanya akan baik-baik saja. Tidak perlu ada yang aku cemaskan.” Gundahnya tenangkan diri.

      “Suamiku sangat bahagia karena mencintaiku, tapi aku tidak bahagia bersamanya karena aku tidak mencintainya. Di hadapannya aku tampak bahagia dan dia pun merasa bahagia tapi suamiku tidak pernah bertanya, apakah aku bahagai bersamanya selama sembilan tahun ini? Tentu saja, aku akan menjawabnya kalau aku bahagia. Aku tidak mau mematahkan semangat hidupnya. Entah kenapa aku tidak bisa mencintainya? Setiap kali memaksakan perasaanku terhadapnya, tenggelam dalam buaiannya, tapi aku hanya mengingat wajah orang lain yang tidak asing dari hidupku, itu sebelum aku menikah dengan suamiku. Suami yang hanya menjadi pelarian hidupku karena dia yang aku sayang pergi jauh dari duniaku. Padahal aku sudah menyerahkan semua jiwa ragaku untuknya. Namun Tuhan tak membiarkan kami hidup bersama, hingga suamiku datang menyuntingku dan kami menikah. Namun perasaan ini tidak dapat aku bohongi bahwa cinta ini hanya untuk dia yang tiada.” Perang batin Virly.

      Setiap kali Virly kenang masa lalu itu, airmata tidak dapat ia bendung. Ia mengalir begitu saja tanpa perintah darinya. Air matanya pun hanya mencintainya seorang. Tak ada yang bisa menggantikan posisinya. Semuanya hanya untuk dia yang Virly sayang, meski ia sudah pergi. Hanya Taman Sepi Perusak Cinta sebagai saksi. (Baca juga cerpen lain pada : Harapan Dan Doa Vea Marisya)

      Jika mengenangnya, Lila sempatkan diri ke taman sepi. Taman yang sudah menjadi persinggahannya bersama sepi. Tempat ia menyeduhkan rindu di ruas sepi. Taman Sepi Perusak Cinta. Di sana pula ia sandarkan kegaduhan pada lorong-lorong kepiluan.

      “Mungkin sudah saatnya suamiku tahu yang sebenarnya. Aku tidak bisa terus menyembunyikan darinya” Teguhnya suatu ketika.

      Selembar kertas Virly taruh di atas meja yang bertuliskan kepergiannya dan tak akan kembali lagi.

      “Kuharap kau tak mencariku lagi karena aku tak bisa terus berada di sampingmu. Satu hal lagi, anak kita Randy bukanlah anak kandungmu. Ia adalah titipan yang menjadikanmu ayah baginya. Sebab aku tak ingin terus membohongimu. Dan kubawa anakku, Randy, ikut bersamaku, sebab ia bukan darah dagingmu. Kuharap kau mau memaafkanku, sayangku!”

      Lalu Virly pergi bersama kelam dan tak pernah kembali lagi ke pangkuannya. Juga meninggalkan Hanya Taman Sepi Perusak Cinta.

      Itulah akhir cerita tentang Hanya Taman Sepi Perusak Cinta. (Baca juga artikel lain pada : Nasib Tragis Bunga Mawar)

You may also like...

2 Responses

  1. […]       Pada suatu hari di hutan belantara seekor singa bangun dari tidur dan merasakan bahwa kondisinya lebih baik dari yang dia pernah rasa sebelumnya. Dia merasa sangat kekar dan sehat dia berfikir bahwa dia bisa mengalahkan siapapun di dunia. Lalu dia berdiri dengan bangga dan membusungkan dada, lalu si singa pergi berkeliaran di hutan belantara. (Baca juga : Taman Sepi Perusak Cinta) […]

  2. […]       That’s all the post about Wife Lost in Shopping Center we can share for this occasion. We hope that article about Wife Lost in Shopping Center above can amuse us so it can make slow down our mind. (Also read other story in Indonesian version at : Taman Sepi Perusak Cinta) […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *