Pergi Jauh Membawa Cinta

Pergi Jauh Membawa Cinta

Pergi Jauh Membawa Cinta

      Mungkin aku tidak boleh terus meratapi atas kepergian dia dari dalam hatiku karena dia telah dipinang oleh lelaki lain sebelum aku sempat mengungkapkan rasa cintaku pada dia. Mungkin orang melihatku dalam kondisi baik-baik saja ketika melihat dia bersama bersama tunangannya.

      Mungkin dia berpikir bahwa aku akan acuh saat seseorang mendahuluiku dan menyatakan perasaannya padanya. Seakan aku adalah sebuah ketiadaan atau hanyalah sebuah bayangan yang tiada wujudnya. Dan dia menjelma menjadi puisi-puisi yang kerap kubacakan di tepian taman yang sepi. (Baca juga : Cinta Tidak Harus Berujung Indah)

      Tapi, hujan tidak pernah berdusta. Jika ternyata, aku tidak baik-baik saja. Aku sangat kehilangan dia. Aku hilang arah. Aku hilang kendali. Aku lepas kontrol.

      Kaca dikamar terasa pecah, emosi mengguncang. Pecahan demi pecahan teranggas dari ranting penyesalan sudah mendera sedari tadi, dan hujan terus menderas sedari pagi. Jika memang aku ini hanyalah sebuah bayangan, buat apa dia mengatakan “YA” padaku namun memilih orang lain? (Baca juga artikel lain pada : )

Dia memberi alasan aku bukan orang yang tepat. Padahal selama ini aku hanya menjaga jarak saja. Bagaimana bisa aku disebut tak tepat jika kau tidak pernah tahu perihal perasaanku?

      Itu hanya sebuah alasan. Karena pada akhirnya, dia mengatakan “YA” di kemudian waktu hanya untuk membuatku menjauh. Berpikir dia untukku. Dia melompat keluar dari kertas puisi itu dan meninggalkanku dalam kebodohan.

      Nafasku terengah-terengah. Ada api menyala membara di dalam dada dan rasanya terus memburu. Memecahkan barang tidak berguna kala aku ingin meredakan kesedihan ini. (Baca juga artikel lain pada : Ketika Takdir Berkata Lain)

     Desir angin yang menerobos ruang kosong, pada bangku merah muda yang dulu acap diduduki pasangan kasih muda, namun kini tiada sesiapa lagi. Tempat itu dihantui oleh kebohonganmu. Hujan terus saja menderas. Alunan irama gemericiknya yang pilu menyelusup dalam jiwaku. Dalam-dalam. Menyebarkan rasa sakit ke seluruh tubuh.

      Beberapa tahun aku menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya pada dia. Selama itu pula orang-orang terus mendahuluiku dan menyatakannya pada dia. Hingga akhirnya pada suatu perputaran waktu, aku mengatakan semuanya. Dari yang mulanya mencekat di tenggorokan hingga terasa lega seperti baru saja melepas beban di badan.

      Dia tersenyum ketika mendengar ungkapan perasaanku. Lengkung senyum dari bibir tipis itu, hidung tajam itu, mata cokelat itu, dan rambut hitam lebat sebahu itu. Beberapa tahun dia memenjarakanku di balik jeruji kekaguman oleh rupanya yang tak pernah berubah itu. (Baca juga artikel lain pada : Hujan Menghapus Kepedihan)

      Ketika dia mengatakan “YA” di tengah taman tempat kami janji bertemu setahun lalu, kupikir aku adalah seorang lelaki yang paling bahagia. Namun, aku salah. Dia tidak pernah benar-benar memilihku. Dia hanya ingin mengatakan jawaban itu karena dia pikir aku adalah lelaki baik yang tak ingin terus digantung ketidakpastian. Walaupun apa yang dia lakukan, layaknya kematian.

      Dia merasa akan menyakiti jika mengatakan “TIDAK” sehingga dia sebar berita manisnya sembari memberi jawaban yang berakhir sebagai mata pisau.

      Untukku. Untuk rindu yang dulu menggebu, namun kini harus memudar dan pilu. Kini, saat undangan pernikahannya sampai di celah bawah pintu rumahku, aku sadar, kesempatanku sudah tersapu dan terlupakan. Dia kini kembali ke dalam kertas puisiku; menjelma puisi kepergian. Saat aku memutuskan untuk tidak menghadiri undangan itu dan memilih pergi, aku Pergi Jauh Membawa Cinta. aku sadar, aku harus memulai kehidupan yang baru. Walau aku masih terus mencintaimu. Hingga akhir waktu.

      Itulah postingan tulisan tentang Pergi Jauh Membawa Cinta yang dapat kami bagikan pada kesempatan ini. Tulisan tentang Pergi Jauh Membawa Cinta diatas hanyalah kumpulan tekan tombol laptop saja. Semoga anda terhibur atas tulisan tentang Pergi Jauh Membawa Cinta diatas. (Baca juga artikel lain pada : Soal Simple Past Tense)

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[smartslider3 slider=2]