Pelajaran dari Tukang Sate

Pelajaran dari Tukang Sate

Pelajaran dari Tukang Sate

      Pada hari ulang tahun Kayyisa, biasanya ibu pasti sibuk di dapur memasak dan menghidangkan makanan kesukaannya. Namun tepat pada saat yang ditunggu, betapa kecewa hati si Kayyisa, meja makan kosong, tidak tampak sedikit pun bayangan makanan kesukaannya tersedia di sana. Kayyisa kesal, marah, dan jengkel. (baca juga : Belajar dari Pohon Menghargai Hidup)

      “Huh, ibu sudah tidak sayang lagi padaku. Sudah tidak ingat hari ulang tahun anaknya sendiri, sungguh keterlaluan,” gerutunya dalam hati. “Ini semua pasti gara-gara adinda sakit semalam sehingga ibu lupa pada ulang tahun dan makanan kesukaanku. Dasar gara-gara anak manja itu!”

      Kayyisa menunggu sampai siang, tampaknya orang serumah pun tidak peduli lagi kepadanya. Tidak ada yang memberi selamat, ciuman, atau mungkin memberi kado untuknya.

      Dengan perasaan marah, kecewa dan sedih, Kayyisa pergi meninggalkan rumah begitu saja. Perut kosong dan pikiran yang dipenuhi kejengkelan membuatnya berjalan sembarangan. Saat melewati sebuah gerobak penjual sate dan mencium aroma nikmat sate yang dibakar, tiba-tiba Kayyisa sadar, betapa lapar perutnya! Dia menatap nanar kepulan asap di atas tungku bakaran sate.

      “Mau beli sate, Neng? Duduk saja di dalam,” sapa si tukang sate.

      “Mau, bang. Tapi saya tidak punya uang,” jawabnya tersipu malu.

      “Bagaimana kalau hari ini abang beri gratis pada kamu? Duduklah, abang siapin sepiring nasi dan10 tusuk sate yang lezat.”

      Kayyisa pun segera duduk di dalam. Tiba-tiba, dia tidak kuasa menahan air matanya.

      “Lho, kenapa menangis, Neng?” tanya si abang tukang sate.

      “Saya jadi ingat ibu saya, bang. Sebenarnya… hari ini ulang tahun saya. Malah abang, yang tidak saya kenal, yang memberi saya makan. Ibuku sendiri tidak ingat hari ulang tahunku apalagi memberi makanan kesukaanku. Saya sedih dan kecewa, bang.”

      “Neng cantik, abang yang baru sekali aja memberi makanan bisa bikin neng terharu sampai nangis. Lha, padahal ibu dan bapak neng, yang ngasih makan tiap hari, dari neng bayi sampai segede ini, apa neng pernah terharu begini? Jangan ngeremehin orangtua sendiri neng, ntar nyesel lho.”

      Kayyisa seketika tersadar, “Kenapa aku tidak pernah berpikir seperti itu?”

      Setelah menghabiskan makanan dan berucap banyak terima kasih, Kayyisa bergegas pergi. Setiba di rumah, ibunya menyambut dengan pelukan hangat, wajah cemas sekaligus lega.

      “Kayyisa, dari mana kamu seharian ini, ibu tidak tahu harus mencari kamu ke mana. Kayyisa, selamat ulang tahun ya. Ibu telah membuat semua makanan kesukaan Kayyisa. Kayyisa pasti lapar kan? Ayo nikmati semua itu.”

      “Ibu, maafkan Kayyisa, Bu,” Kayyisa pun menangis dan menyesal di pelukan ibunya. Dan yang membuat Kayyisa semakin menyesal, ternyata di dalam rumah telah hadir pula sahabat-sahabat baik, sepupu, dan paman serta bibinya. Ternyata ibu Kayyisa membuatkan pesta kejutan untuk Kayyisa kesayangannya.

      Itulah postingan kami tentang Pelajaran dari Tukang Sate yang dapat kami bagikan pada kesempatan kali ini dengan harapan semoga postingan tentang Pelajaran dari Tukang Sate diatas dapat bermanfaat bagi kita sebagai pelajaran tentang betapa kita harus berbaik sangka kepada kedua orang tua kita apapun yang telah beliau lakukan. (lihat juga artikel lain pada : Wanita dan Buah Rambutan)

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *