Merubah Nasib itu Pilihan

Merubah Nasib itu Pilihan

Merubah Nasib itu Pilihan

      Di suatu perkampungan kumuh dekat pembuangan sampah sering didatangi oleh seorang kyai gaul yang masih muda, namun orang-orang diperkampungan kumuh tersebut menganggapnya seperti orang alim yang waskito. (baca juga : Antara Batas Keinginan dan Takdir)

      Kebiasaan kyai tersebut adalah berkain sarung dua warna (hitam dan putih) dengan kaos oblong yang seadanya serta jari yg kerap mengapit rokok marlboro light menthol sehingga mudah dikenali oleh penduduk perkampungan tersebut.

      Setiap kali kyai alim itu mendatangi perkampungan itu, burung-burung gereja pun bersiul senang, burung-burung merpati berterbangan mendekati sang kyai, juga para penduduk setempat karena kyai alim itu datang dengan membawa sembako sehingga membuat mereka kesenangan. “Teima kasih Kyai, kami ini sebenarnya tidak mau disebut miskin, tapi yaa, nasib sudah seperti ini, mau dibilang apa?” Kata beberapa penduduk yang sering diucapkan.

      “Kalian itu keliru kalau bilang miskin itu nasib. Coba kalian lihat si Tarman, awalnya sama dengan kalian kan? tapi sekarang dia sudah naik pangkat, menjadi supervisor pengelolaan sampah, sebentar lagi jadi manager lalu GM, lalu boleh jadi Owner.” Kata sang kyai gaul.

      “Hmmm begini teman-teman, terlahir miskin itu takdir menjadi kaya itu pilihan. Nah sekarang, kalian pilih kaya apatetap miskin? Tanya sang kyai.

      “Hehehe iya Kyai, maunya sih milih kaya, tapi masih bingung, dari mana mulainya?” Jawab Tukimin, warga perkampungan yang sdh 10 tahun jadi pemulung.

      “Pikiranmu itu bawaannya bingung aja! Begini, orang kaya itu bedanya sama si miskin cuma tiga; caranya merasa, caranya berfikir dan caranya bertindak. Sampeyan itu kalau ketemu orang kaya mesti malu kan? alesannya pakewuh. Itu salah … Mulai sekarang cobalah bersikap elegant, kemuliaan diri kalian itu dilihat dari sikap kalian, lha predikat miskin saja sudah mulia, bedakan miskin sebagai kondisi dengan miskin sebagai akidah. Kalian ini sudah kondisi miskin akidahnya miskin, hakekatnya miskin juga, kasihaaan banget kalian.” Jelas kyia.

      “Kemiskinan itu kemuliaan para sufi, ibrahim bin Adham meninggalkan kekayaannya lalu memilih miskin, Al-Ghazali juga menanggalkan jabatan rektornya lalu memilih miskin. Lah kalian tidak perlu meninggalkan kemiskinan karena sudah miskin toh…. Di luar sana banyak orang kaya tapi bermental miskin, kalian bisa jadi orang miskin bermental kaya.” Lanjut sang kyai.

      “Coba perhatikan atlas! Dengan mudah kita bisa melihat teritori dunia lintas benua lengkap dengan budaya masing-masing, ada Barat ada Timur. Pada ranah yg lebih kecil, di setiap bagian bangsa itu ada juga budaya kaya dan miskin meskipun si bangsa itu mengakunya tidak memakai sistem kelas atau kasta.”

      “Kebudayaan yang klasikal ini memang kadang-kadang memprihatinkan. Penamaan Mince dan Mimin, panggilan mami dan mbok benar-benar secara kasat mata telah menorehkan style budaya yg jumpalitan.”

      “Tapi sebenarnya siapa yang menyematkan budaya timur – barat atau miskin – kaya? Entahlah, dalam praktek-nya budaya itu benar-benar menempati pilihan hati dan karakter personalmu!”

      “Kadang-kadang orang barat sangat timur, kadang-kadang orang timur sangat barat. Kadang-kadang orang barat sangat sosial, kadang-kadang orang timur sangat individualistis. Padahal ada kategori-kategori baku bahwa barat itu individualistis, bahwa timur itu suka gotong royong dan kolektif. Ternyata dalam prakteknya bisa terbalik sama sekali.”

      “Budaya orang kaya yang berpendidikan itu mestinya harus lebih arif dan sabar, tapi nyatanya banyak orang kaya yang jutek dan petantang-petenteng. Orang kaya pantas sombong katanya, nyatanya si miskin yang jumawa juga banyak.”

      “Muliakan dirimu dengan memuliakan manusia jangan terganggu dengan penampilannya yg membuatmu tersinggung, bahkan pelacur hina saja masih dirahmati sehingga masuk syurga, mengapa harus nyalahkan kyai yang jarinya mengapit marlboro menthol light? Baru mengapit saja sudah dimarahi, apalagi menghisap. Hehehe” mengakhiri perkataan sang kyai gaul sembari pergi setelah memberi nasehat tentang Merubah Nasib itu Pilihan.

      Itulah postingan nasihat kyai gaul tentang Merubah Nasib itu Pilihan yang dapat kami bagikan. Semoga postingan tentang Merubah Nasib itu Pilihan diatas bermanfaat. (baca juga artikel lain pada : Merubah Diri untuk Mengubah Dunia)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[smartslider3 slider=2]