Mentari Merindukan Rembulan

Mentari Merindukan Rembulan

Mentari Merindukan Rembulan

Kerap kali aku mendambakan,

Membisikkan beberapa kata di telingamu,

Untuk memberitahumu,

Untuk membuatmu tersenyum atas keberadaanku.

Kerap kali aku mendapatkan

Engkau meneteskan air matamu,

Seperti rembulan yang dengan keterpaksaan,

Menyinari alam dari kegelapan.

Aku dan kamu bukanlah matahari atau rembulan,

Aku tidak punya kemampuan,

Untuk menyunari bumi,

Untuk menghilangkan tetesan embun pagi

Untuk menghangatkan alam ini

(Baca juga : Maafkanlah atas Khilaf Ku)

Seringkali aku memimpikan,

Sebuah goresan kecil dalam hidupmu,

Untuk menandaimu,

Untuk menandai kehadiranku dalam hidupmu.

Seringkali pula aku merasakan,

Goresan itu menyakitimu,

Bak Malaikat terluka,

Yang terjatuh ke dalam bumi.

Aku dan kamu bukanlah Malaikat,

Aku tidak punya sayap,

Aku tidak punya naluri,

Aku tidak punya segalanya.

(Baca juga puisi lain pada : Suka Duka Logika Hati)

Aku hanya punya satu alasan,

Mengapa kusendiri disini,

Tak peduli betapa sakitnya itu,

Aku hanya berharap dikala malam…..

Bulan itu kamu.

Karena aku masih menunggu kamu

Mentari masih menunggu Rembulan

Mentari Merindukan Rembulan

      Itulah postingan puisi tentang Mentari Merindukan Rembulan yang dapat kami bagikan pada kesempatan kali ini dengan harapan semoga kita dapat terhibur dari puisi tentang Mentari Merindukan Rembulan diatas. (Baca juga puisi lain dalam versi Bahasa Inggris pada : Sacrifice for the Name of Love)

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[smartslider3 slider=2]