Langkah Kaki Menyambut Mentari Pagi

Langkah Kaki Menyambut Mentari Pagi

Langkah Kaki Menyambut Mentari Pagi

Kala embun menyelimuti bumi

Dingin menyusup dalam menembus relung hati

Membuat damai menyongsong hari

Petanda dimulainya berpacu sang mentari

Menyingkap gelap menuju dini

Dan bergulir menjadi pagi

Ku lipat selimut yang menemani mimpi

Ku intip kau duhai sang mentari

Dari balik hatiku

M-e-n-u-n-g-g-u-i-m-u

Dalam kegelisahanku

Berharap kau akan segera terbit

Dengan cahayamu yang menghangatkan kulit

Terbersit hasrat Ku ingin bertanya

Tentang satu hal yang ku curiga

Kepadamu duhai mentari pagi

Pernahkah kau merasa lelah?

Menyinari bumi dengan cahayamu yang hangat?

Pernahkah kau merasa gundah?

Atau malah merasa penat?

Seperti apa yang kurasa sekarang

Lelahnya hidup bagai memikul seribu karang

Tapi, ku malu padamu duhai mentari pagi

Karena semangatmu tak pernah habis, dari hari ke hari

Para insan mulai mencibir, ketika tak menemukanmu mentari

Dan masih tetap mencibir, ketika hangatnya semangatmu memenuhi bumi

Entah apa jadinya jika kau lelah

Bumi gelap, cahaya temaram

Entah apa jadinya, jika kau gundah

Mungkin tak kan ada siang, hanyalah malam

(baca juga : Kecantikanmu Bukan Musibah Untukku)

Mentariku……………

Ku minta Ajari aku untuk tetap bertahan !

Walau lelahnya hidup menggoyahkan iman

Walau gelisah hidup mengoyak damai

Mentariku……………..

Beri aku semangat !

Agar mampu ku lalui hidup yang hanya sesaat

Untuk menapak hari – hari dengan beban berat

Karena kau dan aku

Sama-sama Makhluk

Yang diciptakan oleh-Nya

Untuk selalu tunduk

Pada semua kodrat-Nya.

      Itulah postingan kami tentang Langkah Kaki Menyambut Mentari Pagi yang telah kami untai pada kesempatan kali ini dengan harapan semoga untaian jemari melalui puisi  tentang Langkah Kaki Menyambut Mentari Pagi diatas dapat bermanfaat sebagai renungan kita.

      Marilah kita semua tetap Semangat dalam menjalani segala beban yang kita jalani karena apapun langkah yang kita lakukan akan berdampak pada masa depan kita nanti, baik masa depan ketika kita berada di dunia fana ini atau masa depan nanti ketika kita akan menghadap kepada sang Pencipta. (kunjungi juga artikel kami di web lain : Siapa Sebenarnya Aku)

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *