"> Jangan Marah Jika Aku Goda - Berbagi itu Indah

Jangan Marah Jika Aku Goda

Jangan Marah Jika Aku Goda

Jangan Marah Jika Aku Goda

      Suatu ketika ditempat antrian pengambilan obat di apotik seorang pemuda (sebut saja Jaka) mencoba menggoda perempuan yang ada disebelahnya, “Mbak, apa nggak kedinginan?” celoteh Jaka pada perempuan itu. (baca juga : Ternyata Setia itu Mahal)

      Beberapa detik, Jaka masih saja menunggu jawaban. Jaka terus melirik perempuan yang ada disebelahnya, perempuan dengan sandal jepit; kaki yang jenjang dengan rok beberapa senti di atas lutut; satu inci bagian perut terbuka; tshirt ekstra ketat; kulit putih; paras yang menarik; android yang digenggam erat, entah yang apa di otak jaka mendapati pemandangan “indah” itu.

      Lolita, si perempuan itu, sontak berdiri, merasa terganggu dengan pandangan lelaki yang menyapanya itu dan beralih ke sisi lain tembok teras sempit apotek itu. Tangannya lantas sibuk menurunkan bagian bawah t-shirt ketatnya hingga menutupi sela-sela perutnya yang sedikit terlihat tadi. Tiba-tiba hilang rasa pedenya, rasa bangga atas status “gaul” yang ia coba bangun dengan pakaiannya yang serba mini itu. Rasa malu mulai menyelimuti fikirannya.

      Perasaan gondok mulai menguasainya, risih dan sebal kepada pemuda iseng yang sama sekali tak pernah didapatinya sebelum ia mengantri di apotek itu. Pertama kali rasanya pemuda itu menampar perasaannya dengan kata-kata tidak diharapkannya.

      “Mbak, bajunya seksi banget loh, apa nggak takut digodain?” Jaka mengumpankan sebuah pertanyaan lagi.

      Dengan wajah merah, sewot dan marah Lolita menjawab, “Biarin, itu urusan gue, badan-badan gue, terserah gue pake baju kek gimana! Toh pantes-pantes aja gue pake baju kayak gini!! Mata loe tuh yang gak bisa dijaga, jelalatan banget sih!! Gak ada kerjaan apa???”

      “Lah, terserah mata saya dong mbak, wong saya yang punya mata, kok mbak sewot? Bukannya mbak pake pakean gitu biar keliatan menarik, nih saya tertarik, harusnya mbak bersyukur dong?” Jaka menjawab dengan nada yang santai.

“Dasar pikiran mesum!!” Singkat, padat, Lolita melabeli pemuda asing dihadapannya.

      “Weh, ini kan terserah otak saya, orang otak ini otak saya sendiri, pikiran-pikiran saya sendiri, kok mbak yang sewot sih!!

      Dan Lolita pun bergegas pergi dari pelataran apotek itu, ia tak mempedulikan lagi resep obat yang belum selesai diracik oleh sang apoteker…

      Itulah cerpen tentang Jangan Marah Jika Aku Goda yang dapat kami bagikan pada kesempatan kali ini dengan harapan agar kita, terutama para kaum wanita, lebih khusus lagi para gadis dapat mengambil hikmah dari cerita tentang Jangan Marah Jika Aku Goda diatas sehingga merubah penampilan dengan menjaga auratnya. (baca juga artikel lain pada : Ketika Aku Jarang Melihat Diriku)

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *