Istri Malu Menatap Wajah Suaminya

Istri Malu Menatap Wajah Suaminya

Istri Malu Menatap Wajah Suaminya

      Pasangan suami istri antara Fulan dan Fulanah telah mengarungi bahtera rumah tangga selama 5 tahun, namun mereka belum dikaruniai seorang anak. Mereka berduapun merasa risih karena tetangga dan kerabat mulai dan menjadi kasak kusuk: “kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau istrinya ya?”.

      Akhirnya secara diam-diam suami istri itu pergi ke seorang dokter untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Dari hasil lab mengatakan bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh dalam arti tidak ada peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak. (baca juga : Jangan Marah Jika Aku Goda)

      Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: Inna lillahi wa Inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah. Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan sama sekali tidak memberitahu istrinya tentang hasil lab dan membiarkan sang istri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki.

      Kemudian sang suami berkata kepada sang dokter: “Maaf Dok, saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada istri saya bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.”

      Tentu saja sang dokter menolak dan terheran-heran. Akan tetapi sang suami terus memaksa sang dokter dengan alasan demi kebaikan istrinya, akhirnya sang dokter setuju untuk mengatakan kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada pada sang suami dan bukan ada pada sang istri.

      Setelah terjadi kesepakatan dengan sang dokter, sang suami memanggil sang istri yang telah lama menunggunya dengan wajah kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang istri ia memasuki ruang dokter. Maka sang dokter membuka amplop hasil lab, lalu membaca dan mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “… Oooh, kamu –wahai fulan- yang mandul, sementara istrimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu untuk sembuh.

      Mendengar penjelasan sang dokter, sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar Allah SWT.

      Pasangan suami istri itupun lalu pulang, dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara.

      Selama 4 tahun dari hasil lab tersebut, suami istri tersebut bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di mana sang istri berkata kepada suaminya: “Mas, saya telah bersabar selama 9 tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata:” betapa baik dan shalihah-nya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama Sembilan tahun, padahal dia tahu kalau karena suaminya, ia tidak akan memperoleh keturunan. Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.”

      Melihat emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata: “istriku, ini cobaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti …, mesti … dan mesti bersabar …”.

      Singkatnya, bagi sang istri, suaminya malah berceramah di hadapannya. Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih”. Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.

      Selang beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil lab mengatakan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal. Mendengar keterangan tersebut, jatuhlah kesabaran sang istri, dan mulailah memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan aku, aku kan ingin punya anak, aku ingin memomong dan menimang bayi, aku kan … aku kan …”.

      Sang istri pun menangis tersedu-sedu di kamar rumah sakit. Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf, saya ada tugas keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja”.

“Haah, pergi?”. Tanya sang istri.

“Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur ginjal, semoga dapat”. Kata sang suami.

      Sehari sebelum operasi, datanglah sang dokter ahli bedah ke tempat pembaringan sang istri. Ia memberitahukan ada donatur yang telah membrikan ginjal. Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur.

        Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya: “Suami apa an dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi meninggalkan diriku terkapar dalam ruang bedah operasi”.

      Operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan. Diam-diam suaminya sendiri yang menjadi donatur satu ginjal untuk istrinya, tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga dan siapa pun selain dokter yang dipesannya agar menutup rapat rahasia tersebut.

      Setelah Sembilan 10 bulan dari operasi itu, atas kehendak Allah, sang istri melahirkan anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para tetangga. Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan studi S3 di sebuah fakultas syari’ah dan telah bekerja sebagai seorang panitera di sebuah pengadilan Agama.

        Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh. Dia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan. Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-bukanya dan membacanya halaman per halaman.

      Belum selesai membaca semua halaman buku harian, sang istri hampir jatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung setelah mengetahui semua rahasia tentang hasil lab, tentang donator ginjal dan lainnya. Setelah agak reda, ia menelpon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali mengulang permohonan maaf kepada suaminya. Sang suami hanya dapat membalas suara telpon istrinya dengan helaan nafas dan tangisan pula.

      Dan setelah peristiwa tersebut, selama beberapa bulan, sang Istri Malu Menatap Wajah Suaminya. Ia tidak berani menatap raut muka suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali. Ia merasa malu tapi sangat bangga pada suaminya, ia pun berjanji dalam hati untuk mengabdi total pada suami tercintanya.

      Itulah postingan tentang Istri Malu Menatap Wajah Suaminya yang dapat kami bagikan dengan harapan semoga kita dapat mengambil hikmah dari Istri Malu Menatap Wajah Suaminya diatas. (baca juga artikel lain pada : Antara Doa Anak dan Orang Tua)

You may also like...

1 Response

  1. […] (Baca juga artikel lain pada : Istri Malu Menatap Wajah Suaminya) […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *