Galau Hati dalam Senyum Mentari

Galau Hati dalam Senyum Mentari

Galau Hati dalam Senyum Mentari

      Walau saat ini mentari tersenyum menatapku namun hari ini ku merasa kurang bergairah. Galau Hati dalam Senyum Mentari tak dapat ku hindari. Aku letih, penat, bosan dan semua rasa yang menjengkelkan berbaur di hatiku menjadi satu. Aku bertanya sang terik bisakah perjalananku dimengerti olehnya? Bahwasanya  diriku tidaklah sesempurna pikirannya. Aaaah… aku merasa letih memahamkan pemahamanku padanya yang mestinya ia pahami.

      Ataukah aku yang tak mengerti pemahamannya tentang artian kata paham dalam definisinya? Ada banyak tafsiran dan makna yang mesti ku telaah hingga saat ku bisa memilah milah apa yang mestinya di dengarkan.

      Sang terik pun tak peduli kalau hari ini aku merasa letih, dan aku berdiri dengan pandangan nanar menerawang kearah gang kecil di tempatmu menawanku. (Lihat juga : Pengusaha Kaya dan Tukang Becak)

      Kita adalah dua manusia yang berbeda, seolah pekat oleh perbedaan-perbedaan. Paham pakem mu yang hendak kau torehkan pada ikrar rasa kita yang terlontar, hingga tak terlihat. Doa-doa dan asa membentur dan berlompat-lompatan diterik panas menyengat. Ah…, suara-suara berbisik-bisik terus mengaung-ngaung kencang memekakkan telinga. Andai terdengar jelas olehmu, oh…. Kuletih berucap tentang rasa. Ku coba menenangkan jiwa, namun tetap saja ku letih karena pemahamanku tak terbit jua untuk kau pahami.

      Riak-riak wajahmu menyeruak dalam pelupuk mataku dan mengembara menyusuri kelopaknya. Ketika hatiku rapuh padamu, Patah dan terlepas. Getar yang sama ku temui darinya. Aku masih galau.

      Walau tak akan teraih dekap sayangku melingkarinya. Tapi, salahkah jika hati merindu hadirnya dalam setiap tapak-tapak jejak langkahku. Menyongsong dan melewati malam dalam gelora yang tak terungkapkan.

      Mungkin hanya sentuhan sepoi angin di semilir malam yang berhembus, berusaha untuk membaca mata hatiku. Cinta sungguh mampu memekakakkan warasku, dan engkau tak akan pernah tahu.

      Biarlah semuanya ku simpan rapat-rapat dalam pintu hatiku. Kelak kau akan sadar dengan sendirinya… bahwa cintaku padamu tak bernalar.

      Dalam kesendirian aku merasa letih. Buatmu sosok misterius pemikat hatiku. Mungkin letihku akan terganti oleh hadirmu, walau hanya dalam mimpiku.

      Itulah postingan aerikel tentang Galau Hati dalam Senyum Mentari yang dapat kami bagikan pada kesempatan kali ini dengan harapan semoga postingan tentang Galau Hati dalam Senyum Mentari diatas dapat bermanfaat. (Lihat juga cerita lain dalam versi bahasa Inggris pada : Be Confident of Yourself Capability)

You may also like...

3 Responses

  1. […]       Saat ini banyak masyarakat yang mengambil jalan pintas dalam mengejar kemewahan dunia, perjanjian dengan syaitan (Pesugihan), Korupsi, serta menyalah gunakan pekerjaannya sering digunakan orang yang tanpa dilandasi keimanan. Mereka melakukan perbuatan itu demi kesenangan dunia, dan untuk memenuhi semua keinginannya . Tanpa memikirkan balasan , hukuman , atau azab yang akan diterimanya pada kehidupan selanjutnya . (Baca juga artikel lain pada : Galau Hati dalam Senyum Mentari) […]

  2. […]      “Oh gitu. Saya sangat bersyukur mpok, bisa mempunyai anak seperti Ali, meskipun saya belum bisa menyekolahkannya, tapi ia masih mau belajar dan membantu saya bekerja. Yasudah mpok kalau anak saya ikut Dimas, kalau begitu saya duluan ya mpok. Kasihan suami saya sendirian”, pamitnya. (Baca juga cerpen lain pada : Galau Hati dalam Senyum Mentari) […]

  3. […]             Ditambah dengan anak anak jaman sekarang yang hanya mengandalkan permainan handphone daripada bermain di alam desanya. Padahal bermain di alam itu jauh lebih menyenangkan dibandingkan bermain dengan handphone. Bermain dengan orang banyak di alam membuat badan kita tetap sehat karena banyak bergerak dan menghirup udara bebas. Kenapa anak anak lebih memilih bermain handphone dibandingkan bermain di alam?. Tuhan telah memberi kita alam yang indah tetapi tidak kita jaga baik baik. Tuhan telah memberi kita desa yang indah tetapi tidak kita manfaatkan agar tetap asri lagi. Jaman sudah berubah drastic. Mungkin hanya sebagian anak desa yang mau bermain di alam desanya. Tidak semuanya mau bermain di desanya. Upaya masyarakat untuk menjaga pepohonan juga masih kurang. Banyak pohon pohon yang ditebang demi kepentingan pribadi. (Baca juga artikel lain pada : Galau Hati dalam Senyum Mentari) […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *