Elegi Pribadi yang Rapuh

Elegi Pribadi yang Rapuh

Elegi Pribadi yang Rapuh

Kelalaian senantiasa menyapa hari-hariku,

kealpaan selalu hadir setiap saat,

benak meraga raja, jiwa bermandi durja,

ini bukan soal aku rapuh,

tapi keadaan yang tak berpihak padaku.

Keringatku aku telan sendiri,

aromaku aku hirup sendiri,

karena ini dosaku.

Entah kemana harus kulabuhkan jiwaku,

entah dimana harus kusandarkan ragaku,

entah dari mana harus ku awali langkah kakiku.

 (Baca juga : Memahami tanpa Mengerti)

aku lelah berpeluh sembilu,

yang menghirisku tak kenal waktu,

aku jemu pada ketiadaan,

meski aku kerap bersenda dengan kesepian.

Meski juga sering bersapa dengan kegalauan,

Namun aku tidak akan menyerah,

aku hanya ingin diam sejenak.

Dunia cukup untuk siapa saja,

Dunia mampu menampung apa saja,

tapi tak cukup untuk satu orang yang serakah.

Aku tau itu,

bahkan aku hanya ingin sedikit saja,

kata “cukup” sudah sangat memuaskan bagiku.

Aku tak ingin banyak,

aku hanya ingin ada,

karena akupun tahu,

Tuhan hanya akan memberikan yang dibutuhkan hambaNYA,

bukan yang di inginkan hambanya.

Aku banyak mengumbar janji,

mungkin karena akupun banyak menelan janji.

Sayang, . . . . . .

Maafkanlah aku jika aku terus menyulitkanmu

ini jauh di luar kuasaku,

aku tak bermaksud menyulitkanmu,

tapi keadaan yang belum bisa memanjakan aku.

(Baca juga puisi lain pada : Mengarungi dunia yang fana)

Sayang, . . . . .

Ini bukan puisi,

Dan juga bukan konfirmasi,

Apalagi bentuk curahan hati,

tapi catatan kelam keseharianku.

Aku malu menadah padamu,

Aku takut menyapa dirimu,

karena aku tak pernah membahagiakanmu,

meski itu adalah cita-cita luhurku,

entah kapan sampai padamu.

Semoga kau bisa bertahan,

sampai aku dapat singkirkan sembilu dari peraduanmu.

Dari peraduan kita.

      Itulah postingan puisi tentang Elegi Pribadi yang Rapuh yang dapat kami bagikan pada kesempatan kali ini dengan harapan agar anda dapat menikmati dan memahami makna yang terkandung dalam puisi tentang Elegi Pribadi yang Rapuh diatas sehingga dapat menjadi bahan referensi. (Baca juga puisi lain dalam versi Bahasa Inggris pada : Thanks to Allah for Everything Given)

3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[smartslider3 slider=2]