"> Cinta Matahari Rindu Rembulan - Berbagi itu Indah

Cinta Matahari Rindu Rembulan

Cinta Matahari Rindu Rembulan

Cinta Matahari Rindu Rembulan

Cinta Matahari Rindu Rembulan

       Suatu hari sang bulan berkata kepada matahari :

Oh Cintaku, kau menyinari manusia dan membuat mereka senang sepanjang hari, dan Aku akan menghibur mereka dan memberikan mereka rasa damai dan kebahagiaan pada malam hari saat mereka bercinta, tapi aku benar-benar kesepian dan sendiri. Kau tak pernah bersama denganku menemani aku. Dapatkah kita saling bergandeng tangan sebagaimana yang mereka lakukan ?

       Lalu Matahari menjawab;

“Oh sayang, aku tidak sedang menyinari mereka, melainkan aku menyinari cintaku padamu, sehingga kau tidak merasa kesepian. Cahayaku akan membuatmu bersinar indah dan kecantikanmu akan membuat setiap mata gadis-gadis penuh dengan iri dan cemburu. Kita hidup di dunia yang terpisah tapi aku akan selalu menyinari cintaku padamu selamanya, sampai Tuhan Yang Maha Kuasa membawa kita bersama di Surga.”

       Bulan merasa puas dengan jawaban Matahari, tetapi ia tidak pernah puas dengan hal ini. Dia sangat mencintai Matahari sehingga tak tertahankan baginya untuk hidup terpisah. (Baca juga : Ulama Bijak dan Pedagang Sayur )

       Suatu hari, Bulan berkata dalam hati, Saya tidak boleh berputus asa dan saya harus kuat agar dapat terus bersama dengan Matahari. Mulai hari ini, aku akan berlama-lama di langit sampai pagi hanya untuk melihat Matahari, walaupun itu hanya untuk sementara waktu.

       Bulan berusaha untuk menunjukkan dan membuktikan cinta sejatinya kepada Matahari. Lalu dia tetap di langit setiap pagi hingga siang agar dapat bersama dengan Matahari walau hanya sekejap,walaupun cahaya bulan tak seindah di waktu malam, Kecantikannya memudar oleh pagi dan dia sedih karena dia tidak dapat menunjukkan kepada Matahari akan kecantikannya.

       Walaupun keduanya muncul pada pagi yang sama, mereka hanya bisa saling memandang dari kejauhan. Mereka tidak bisa saling berdekatan untuk dapat bergandeng tangan atau saling berpelukan erat. Meskipun demikian, Bulan sangat bahagia karena mereka bisa saling memandang satu sama lain. 

       Dan sungguh sangat menyedihkan bagi Matahari, karena ia hanya dapat melihat wajah pucat Sang Bulan yang memandanginya setiap pagi, tidak bersinar cerah dan dan seindah Bulan di kala malam. (Baca juga artikel lain pada : Nasehat Ibu Yang Cantik )

Lalu Mataharipun bertanya pada sang bulan ;

“Wahai kekasihku, kenapa kau nampak begitu pucat dan sedih ?”

Sang bulanpun menjawab :

“Wahai kekasihku, Aku sedih karena aku tidak bisa dekat denganmu dan aku nampak pucat karena kau bersinar begitu terang. Kau sirami aku dengan sinaran cintamu yang begitu besar, dan hal ini membuatku menderita, karena aku tidak bisa bersama denganmu.”

Matahari nampak kebingungan dengan jawaban sang bulan, lalu dia kemudian bertanya lagi kepada sang bulan :

“Wahai kekasihku, apakah kamu ingin aku mengurangkan sinaran cintaku padamu sehingga kau dapat menyinari langit pagi dengan cahaya indahmu dan senyumanmu ?”

Mendengar hal ini, sang bulanpun menjawab :

“Wahai kekasihku, jangan kau lakukan itu. Jika kau tidak menyinari cintamu padaku, lalu selamanya aku akan menjadi gelap sekalipun di malam hari, dan bekas luka di badanku takkan terobati. 

       Lalu merekapun terus menjalani kehidupan seperti ini. Sang Matahari menyinari bumi setiap hari dan ketika malam tiba, Sang Rembulan yang kesepian akan mencoba menghalau kesepian manusia.

       Mereka hanya bisa saling memandang di setiap pagi lalu kemudian mereka akan terpisah kembali. Akhirnya sang bulan merasa tak terpuaskan, Dia merindukan Sang Matahari setiap saat dan dia hanya dapat memandanginya dari kejauhan di setiap pagi. Dan hal ini tidaklah cukup baginya. (Baca juga artikel lain pada : Cahaya Illahi di ufuk timur )

       Jadi, tanya Bulan kepada Matahari kembali;

“Oh kekasihku, jika aku bisa berlama-lama di pagi hari yang cerah, mengapa kamu tidak bisa melakukan hal yang sama pada malam hari, jika dirimu hadir di malam hari, maka aku selalu bisa menunjukkan kecantikanku padamu?”

       Mendengar pertanyaan ini, Matahari menjadi bingung dan tidak memiliki jawabannya sendiri. Dia juga bertanya-tanya mengapa dia tidak bisa bersinar di malam hari. Setelah beberapa saat memikirkan hal ini, Sang Matahari menjawab;

“Oh sayangku, apakah kau lupa Firman Allah dalam Kitab Suci Al-Qur’an :

Lalu Sang Matahari membaca Surah Az-Zumar ayat 5 :

“ Dia menciptakan langit dan bumi dengan [tujuan] yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. “

       Mendengar lantunan ayat tersebut, Sang Bulanpun menitikkan air mata, lalu dia memohon ampunan kepada Allah SWT, karena dia sedang berusaha menentang aturan Penciptaan Allah SWT. Allah telah menakdirkan demikian. Sang Bulanpun menyadari bahwa dia tidak dapat bersama dengan kekasih hatinya Sang Matahari. Yang bisa dia lakukan hanyalah memandangi Sang Matahari dari kejauhan dengan wajah pucat dan raut kesedihan.

Untuk mengurangkan kesedihan Sang Bulan, Sang Mataharipun kemudian membaca Surah Al-Qiyamah, ayat 9 :

“Dan matahari dan bulan dikumpulkan.”

“Wahai kekasihku, akan ada saat dimana kita akan dapat bersama,bersabarlah”, ujar Sang Matahari kepada Sang Bulan.

       Lalu kemudian, Sang Bulan dan Mataharipun selalu menunggu dan menunggu hingga Allah Yang Maha Kuasa mengabulkan harapan mereka untuk dapat bersama.

       Cinta Matahari Rindu Rembulan adalah cinta dan rindu yang sangat tragis. Saling mencintai tapi tidak bisa saling memiliki. Dalam kehidupan ini, akan selalu ada cinta yang demikian, cinta yang tidak dapat bersatu di dalam kehidupan dunia ini dan yakinlah bahwa Allah pasti akan memberikan cinta ini kelak di surga-Nya.

       Itulah postingan tentang Cinta Matahari Rindu Rembulan yang dapat kami bagikan pada kesempatan kali ini dengan harapan semoga postingan tentang Cinta Matahari Rindu Rembulan diatas dapat memberikan hikmah bagi kita. (Baca juga artikel lain pada : Soal PAS Seni Budaya Kelas 11 Semester 1 )

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *