Cermin di Ujung Lorong

Cermin di Ujung Lorong

Cermin di Ujung Lorong

      Pada suatu hari ada seorang gadis muda sedang berjalan menyusuri sebuah lorong gelap dan sunyi, yang tercium hanya bau pengap dan lembab.  Yang terlihat hanya sesekali kucing berlarian di lorong tersebut. Sampai pada akhirnya ia tertahan di ujung lorong yang buntu.  Terdapat tembok yang menjulang tinggi dan menandakan bahwa ini adalah ujung dari lorong tersebut.  Hanya terdapat sebuah cermin besar yang tergeletak begitu saja disalah satu pojok tembok.  Mungkin cermin ini sudah menjadi sampah yang dibuang oleh pemiliknya. (baca juga : Pelajaran dari Tukang Sate)

      Gadis itu pun perlahan mendekati cermin tersebut.  Dia melihat bayangan dirinya yang dipantulkan oleh cermin tersebut.  Dia pun menyentuh cermin tersebut, membersihkan debu yang berada di permukaan cermin agar dia bisa melihat dengan nyata rupa yang dipantulkan oleh cermin tersebut.

      Gadis itu tersenyum getir memandang cermin tersebut, angkuh senyum melukis indah diwajahnya yang sayu.  Lalu kemudian dia menangis, meratap sambil mengiba seakan mengasihani diri sendiri.

      Mengapa gadis muda itu menangis? Ada apa dengan gadis tersebut? Bukankah engkau terlalu sempurna untuk disukai, bahkan dicintai oleh lelaki lain?

      Tidak sayangkah engkau membuang air mata dari matamu yang lentik itu? Seharusnya engkau tetap tersenyum.  Sekali lagi, dia memandang cermin tersebut dengan mata sembab.  Menatap kembali bayangan dirinya.

      Dia menyadari ternyata yang sempurna belum tentu sempurna.  Yang tampak indah belum tentu menawan.  Yang terlihat bahagia, bisa jadi menyimpan duka.  Yang dikira baik, bisa jadi buruk.  Yang terlihat religi, tak lebih dari seorang insan hina.  Semua hanya topeng kehidupan, masing-masing orang memiliki berbagai topengnya sendiri-sendiri.  Dan akan memakai topeng tersebut sesuai dengan keadaan.  Tak ada yang bisa ditebak, tak ada yang bisa diterka. 

      Refleksi yang ada hanya sekedar tampilan saja.  Semua tampak seperti fatamorgana yang tampak indah dan menyenangkan membalut nestapa.  Semua tak ubah seperti jantung pisang yang menyembunyikan buahnya dalam balutan helai demi helai kuncupnya.  Menyimpan rapuh yang seharusnya terlihat, sehingga membuatnya seolah menjadi sempurna tapi ternyata semua hanya menipu mata.

      Lama gadis itu diam membatu, berdiri termangu didepan cermin. Dia tidak mau beranjak dari ujung lorong itu. Ragu dalam hatinya berkecambuk, apakah harus terus berlalu atau harus tetap disitu.  Hanya dia sendiri yang tahu.

      Itulah postingan cerpen tentang Cermin di Ujung Lorong yang dapat kami bagikan pada kesempatan kali ini dengan harapan semoga postingan tentang Cermin di Ujung Lorong diatas dapat menggugah kita dari lamunan dunia yang menipu diri kita sehingga kita sadar siapa kita ini. (kunjungi juga artikel lain pada : Renungan Perjalanan Hidup Manusia)

3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *