Bunga Lili Membuka Memori Kelabu

Bunga Lili Membuka Memori Kelabu

Bunga Lili Membuka Memori Kelabu

Kembali kupandangi ruang-ruang kosong rumah yang telah lama tak berpenghuni ini, disini terekam banyak sekali kenangan indah, kenangan yang akan selalu ku ingat. Dinding usang ini telah menjadi saksi tingkah polah aku dan dia semasa kecil yang selalu saja menghamburkan coretan pena hingga bunda dia selalu saja menghukum kami berdua karena kajailan kami. “Lucu..” jika mengingat masa-masa saat aku dan dia bersama-sama. Bunga Lili Membuka Memori Kelabu. Kini semua tinggal kenangan. Kini dia telah damai dalam dekap-Nya. Disini tinggalah aku sendiri yang harus melanjutkan perjalanan.

“Meeooong.. meeong…”

“Hmmmm… manis banget kucing nya..!!! Kucing siapa yah..??” Pikirku

“Meeooong..!!!” Kucing kampung berwarna putih kekuningan dan memiliki badan yang subur membuat aku gemas. Selain itu kucing ini mengingatkan ku pada si manis, si manis yang sudah tidak ada semenjak aku SMP.

“Kira-kira kalau aku bawa pulang ada yang marah gak ya?” tanyaku dalam hati.

“Sepertinya tidak, rumah Sandy kan kosong tak berpenghuni, jadi gak mungkin ada yang memiliki kucing ini. lagi pula kasian kucing ini sendirian. Bawa pulang aja ah…”

Setelah berfikir panjang akhirnya kuputuskan untuk membawa kucing manis itu pulang karena aku tidak tega membiarkannya sendirian.

“Assalamualaikum..”

“Waalaikumsalam.. Baru pulang Vita? dari mana aja?”

“Iya bunda, tadi habis jalan-jalan kerumah Sandy yang dulu.”

“Vita… kamu masih inget aja sama almarhum Sandy? Sudah 3 tahun Vita… hidup harus tetap berjalan sayang.”

Dengan senyum aku menjawab “ Iya bunda ku sayang, Novita sudah bisa menerima kepergian Sandy, tapi Novita gak bisa ngelupan Sandy ma, Sandy akan selalu ada dihati Novita..”

Tiba-tiba si manis masuk kedalam rumah dan mendekatiku seolah ingin selalu dekat denganku. (Baca juga : Bercinta dengan Seekor Ulat)

“hus…hus… kucing sapa sih..?” Tanya bunda sambil berusaha menjauhkan kucing itu dariku

“Bunda.. Novita yang bawa kucing itu kerumah ma, namanya manis.. tadi Novita ketemu kucing lucu ini di Rumah Sandy ma, Novita ga tega liat kucing itu sendirian di rumah kosong itu, lagi pula kucing ini mirip sama si manis kucing Novita dan Sandy dulu yang sudah mati waktu jaman SMP dulu. Novita boleh melihara kucing ini kan ma? Ya bunda ku sayang.. boleh kan?” Tanyaku manja

“Hmm… bunda gak bisa ngomong apa-apa lagi Vita… kalau kucing itu buat kamu senang bunda juga ikut senang.”

“Makasih bunda ku saaayaang… muah…” Akhirnya bunda luluh dengan rayuan gombalku. Hihihihi…

“Waaah… pagi yang cerah… waktunya untuk berkebun…” senyum kebahagiaan mengembang dibibirku, entah apa yang membuatku bahagia pada pagi ini.

Aku adalah tipe orang yang sangat suka dengan bunga, mungkin sifat ini menurun dari bundaku, karena bundaku juga sangat gemar sekali dengan bunga. Namun dari sekian banyak bunga hanya satu yang menjadi juara bagiku yaitu bunga lili, dari dulu aku sangat senang dengan bunga lili putih, hingga didalam sudut kamarku pun terdapat bunga lili putih yang semerbak harumnya. Entah apa yang membuat aku suka pada sosok bunga lili putih. Bagiku bunga lili memberikan kedamaian dalam hatiku.

“Bunda..bunda…”

“Iya sayang… kenapa?”

“Kok bunga lili yang ditaman ada yang rusak sih? Siapa ma yang ngerusakin?” tanyaku sebel

“Ga ada yang ngerusakin sayang.. bunga kamu itu tadi kena bola dari tetangga sebelah, kan rumah disebelah sudah ada yang nempatin, nah tadi itu anak pemilik rumah sebelah lagi main bola, eh..bolanya tiba-tiba larinya sampe sini, kena deh bunga lili kamu. Tapi tadi anaknya sudah minta maap kok. Sudah..jangan cemberut gitu.. ntar cantiknya hilang loh..!!”

“IIIIh…bunda kan tau Novita tuh paling sebel kalau taman Novita rusak.. apa lagi bunga lili kesayangan Novita. Novita gak trima ma… dia harus ngebenahin taman Novita… haruus..!!”

“Saaayaang.. sudahlah.. jangan dipermasalahkan.”

“Gak bisa maa…” akhirnya aku bergegas pergi kerumah si pelaku yang telah merusak bungaku.

Terliat sesosok lelaki yang sedang asik memainkan bola dengan kakinya. Sepertinya laki-laki itu mahir sekali memainkan bola. Sejenak aku tertegun melihatnya.. dia mengingatkan ku pada 4 tahun yang lalu saat Sandy memenangkan kejuaraan sepak bola antar kampus.

“Eh… lu…” suaraku mengagetkan laki-laki itu

“hmm… maap.. mbak siapa ya? Tukang kebun baru yah?” tanyanya heran.

Whaaatt??? Tukang kebuun??? Gila tuh anak.. masa gue dikira tukang kebun. Emangnya gue ada tampang-tampang tukan kebun apa? Huh….

“Ehh.. mass.. emangnya gue ada tampang-tampang tukang kebun apa?” tanyaku

“hmm.. terus mbak siapa? Kalau bukan tukang kebun ngapain bawa-bawa gunting rumput?”

“Ya terserah gue dong. Gunting-gunting gue. Eh… lu tadi main bola sampe bolanya lari ke rumah gue ya?”

“Maaf, rumah lu yang mana ya?”

 ih.. ni anak o’on banget pikirku “lu ngerasa gak sih bola lu tuh tadi masuk ke halaman gue dan ngerusak bunga gue. Huh…”

“Owh.. itu… tadi gue sudah minta maap sama tante sebelah kok dan kata beliau gapapa. Terus knapa lu yang marah-marah. Aneh.”

“Maasaalaahnya itu taman gue.. gue yang ngerawat. Jelas aja gue maraah…..!!” kini aku tidak bisa lagi mengendalikan emosiku. (Baca juga cerpen lain pada : Surat Terakhir Untuk Sarla)

“Terus?”

Terus?? Nih anak sumpah nyebelin banget… ga tau apa aku lagi marah. Masa cuman dijawab gitu doang… siaalaaan…!!! (Novita ngedumel dalam hati)

“Gue mau, lu ngebenahin taman gue. Lu harus ganti bunga lili gue yang patah…!!” pekik ku

“Biasa aja kali mbak, ga usah triak-triak. Iya nanti gue benerin. Ya udah balik sana. Gue mau main lagi.”

Ihh… ni cowok nyebelin banget sih… sumpah nyebelin.. songong… huuh…. Harus diberi pelajaran nih…

“Sekaraang… pokoknya lu harus benerin skarang juga…!!!”

“Ihh… dasaar cewek resek…. Ya udah. Mana bunga lu yang rusak?” Akhirnya tuh cowok ngalah juga… yeeess…!!! Gue menang… hihihihihi.

“Sini ikut gue..!!”

“Nooh… bunga lili gue patah satu tuh gara-gara bola lu..!!” sambil ku tunjuk bunga lili kesayanganku yang patah.

“Hmm… maap deh…!!”

“MaaF.. maaF…!! Benerin dulu noh baru minta maap”

“iya..iya… bawel.”

Akhirnya dia mengganti bunga liliku dengan bunga lili yang ada dirumahnya. Untung aja ditaman dia terdapat bunga lili, jadi dia gak sibuk untuk cari pengganti bunga liliku yang rusak. Huuh… ga asik.

Hari ini aku ikut ujian PNS. Hmmm… sejujurnya aku malas untuk ikut ujian ini, karena niatku bukan bekerja sebagai bawahan macam pegawai negeri, tapi aku ingin membangun usaha dan membuka lowongan pekerjaan..!!

Tak lama kemudian pengawas ujian datang dan membagikan soal ujian masuk menjadi CPNS.  Para peserta ujian terlihat sangat bekerja keras mengerjakan soal ujian, aku dengan santai menjawab soal tes dengan asal-asalan.

“Hihihihii…gue jawab sembarang aja ah… toh gue ga’ ada niat jadi guru. Kalau gue jadi guru bisa-bisa gue dapet karma dari murid-murid gue, dulu waktu SMA kerjaannya kan ngerjain guru. Hihihihi..”

Dua jam berlalu menandakan waktu ujian selesai, peserta ujian tampak kusam setelah mengerjakan soal, sepertinya hanya aku saja yang terlihat fresh. Hihihihi…

“Assalaualaikum..”

“Waalaikumsalam.. gmana tes nya tadi Vita? Bisa kan? Bunda pengen banget kamu jadi guru..”

“hmm…. Sulit bunda, kayaknya Novita ga lolos eh..” (pasang muka sedih. Hihihi…)

“ya sudah… kalau  taun ini gak lolos taun depan di coba lagi ya.. jangan menyerah…”

“hmmm.. bunda… Novita gak pengen jadi guru ma.. Novita pengen buka bisnis sendiri, Novita pengen berbisnis bunda..” akhirnya kuutarakan juga keinginanku.

“Sayaang.. jadi PNS tuh bisa menjamin masa depan kamu sayang…”

“Tapi maa.. Novita tuh gak pengen jadi guru, jiwa Novita tuh di bisnis, Novita pengen berbisnis bunda.. tolong ngertiin Novita bunda…”

“Hmmm… kamu beneran yakin dengan keputusan kamu?”

“Iya bunda.. Novita sangat yakin..”

“Baiklah.. bunda setuju, asalkan kamu berjanji akan bertanggung ajab atas keputusanmu ini.”

“Beeneeran bunda?? Makasih bundaku sayang.. Novita janji dia bakalan komit dengan kputusan yang dia ambil.”

Setahun kemudian akhirnya aku berhasil mewujudkan keinginanku untuk berbisnis, kini aku sudah memiliki tempat sendiri untuk berbisnis menerima pemesanan karangan bunga.

“Mbak… ada bunga lili putih gak?”

He? Lili putih? Itukan bunga kesukaan ku… akhirnya aku pun menengok dan mencari tau siapa pembeli itu.

Ya Tuhan.. wajah itu… wajah itu mengingatkan ku pada sosok dia.. dia yang sudah 4 tahun hilang dari hidupku.. wajahnya sangat mirip… apakah mungkin dia adalah renkarnasi dari jiwa Sandy? Ya Allah.. kini aku berkeringat dingin, aku gak sanggup dengan apa yang aku lihat sekarang. Perlahan pandanganku mulai kabur dah tak lama kemudian gelap…

“Novita…Novita…Novita… sadar sayang…”

“hmm…hmm…. Ma..bunda…”

“iya sayang ini bunda… kamu kenapa sayang, tadi tiba-tiba pingsan..”

Airmataku mulai menetes..

“sayang.. kok malah nangis, knapa kamu sayang..?”

“Novita tadi liat Sandy.. tadi Sandy kesini bunda… Sandy kesini…” hikz…hikzz..hikz…

“Sayaang.. Sandy sudah tidak ada sayang.. Sandy sudah meninggal…”

“Enggak bunda… tadi Novita beneran ketemu Sandy, tadi dia datang kesini buat beli bunga lili putih Bunda.. buat beli bunga kesukaan aku…” Bunga Lili Membuka Memori Kelabuku. Air mataku semakin deras, dan kini bunda memelukku erat.

“Semua terasa seperti mimpi.. aku melihat dia, bagaimana bisa ada orang yang memiliki wajah mirip dengannya… bagaimana bisa..!!!” tak habis fikir aku dengan apa yang aku lihat kemarin.

“Apakah mungkin dia adalah pengganti yang diturunkan Allah untukku? Apakah mungkin..???”

“Jika benar, aku harap suatu saaat dia datang kembali kesini… dia datang untukku.”

Sepertinya tuhan mengabulkan permohonanku. Tiba-tiba muncul sesosok pria datang untuk membeli bunga lili putih.

“Mbak ada sebuket bunga lili putih?”

“hmmm.. ada, anda mau yang seperti ini?” kusodorkan sebuket bunga lili putih.

“hmm. Iya, yang ini. brapa mbak? Oh iya.. ada kartu ucapannya?”

“ Seratus ribu mas, ini kartu ucapannya.” Kupandangi setiap sudut wajahnya, sungguh dia sangat mirip dengan Sandy, ya tuhan.. bagai mana bisa ada orang yang sangat mirip seperti ini. Bagai mana bisa dia…

“Mbak, ini tolong kirim ke alamat ini yah…”

“hmm.. iya mas, kami akan segera kirim.”

“Ok, trimakasih..” kini tinggal aku sendiri, terpaku melihat dia yang telah pergi. Disini aku mengingat memori saat Sandy masih ada.. saat dia ada di samping aku dengan senyum manis nya.

“hmm.. buket bunga ini kira-kira untuk siapa ya?” tiba-tiba terlintas pertanyaan yang mengganjal dipikiranku. Dan kuberanikan diri untuk membuka kartu ucapan yang tadi dia tulis.  Dan seketika aku merasa tersambar petir yang mengacau dan, menghancurkan semuanya.

Selamat ulangtahun pernikahan sayang,

Semoga kita tetap bersama selamanya

Sampai maut memisahkan kita.

*Love you*

“Ternyata… ternyata dia sudah memiliki pasangan untuk berbagi.. bagaimana bisa…. Ya Tuhan.. apa maksud dari smua ini. bagaimana bisa… apa sebenarnya yang Engkau inginkan…” teringat kembali pada Bunga Lili Membuka Memori Kelabu. Kembali airmata ini menetes. Kubuka diary:

Langit mulai mendung..

Perlahan tetesan air membasahi..

Hawa dingin pun menusuk tulang..

Sepertinya awan turut prihatin dengan apa yang kurasa..

Oh Tuhan..

Apakah maksud dari semua ini..

Terbesit amarah

Begitu curam jalan kehidupan yang Kau pilih untuku

Apa arti dari semua ini tuhan..

Kututup catatan diary yang mulai usang akibat termakan waktu, begitu juga dengan hatiku yang mulai terobek-robek oleh semua teka teki cinta. Bunga Lili Membuka Memori Kelabu. Bagaimana bisa aku seperti ini… Cinta ini terlalu dalam.. teramat sesak memenuhi relung hatiku. Aku sudah tidak tahan akan semua ini… aku terlalu mencintai dia.. aku terlalu mengikat dia erat dalam hatiku. aku tidak tanan dengan smua ini.. aku tidak tahan… biarkan diri ini mencarimu sayang, aku sudah tidak sanggup mengarungi kehidupan tanpamu.. aku bisa gila dengan semua ini.. biarkan darah ini menjadi saksi bahwa cintaku padamu akan selalu abadi.. biarkan darah ini mengantarkanku untuk menemuimu… biarkan nyawa ini terbang bersamamu.. Bunga Lili Membuka Memori Kelabu.

      Itulah cerpen tentang Bunga Lili Membuka Memori Kelabu yang dapat kami bagikan pada kesempatan kali ini dengan harapan semoga cerpen Bunga Lili Membuka Memori Kelabu diatas dapat menghibur. (baca juga cerpen lain dalam versi bahasa Inggris pada : Abunawas Became a King)

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[smartslider3 slider=2]