Aneh Semua Orang Acuh

Aneh Semua Orang Acuh

Aneh Semua Orang Acuh

      Pagi ini, Nadia bangun gak seperti biasanya. Mata Nadia terbuka tanpa dia mendengar suara alarm handphone yang sebelumnya selalu setia untuk membangunkannya tiap pagi. Cepat-cepat  Nadia menyingkapkan selimut dan segera melipatnya dengan rapi dan Nadiapun segera beranjak ke kamar mandi. Selesai mandi, Nadia segera mengenakan seragam putih abu-abu dan setelah itu Nadia beranjak ke rak sepatu dan segera memakai sepatu hitam bertali lengkap dengan kaos kaki putih. (baca juga : Derita Dibalik Cinta Yang Hilang)

      Setelah persiapan selesai, Nadiapun keluar dari kamar menuju ruang makan. “Aneh!!!”, pikir Nadia dalam hati. “Mulai kapan suasana rumahku jadi sunyi seperti saat ini???

      “Buuuu….”, panggil Nadia memecah kesunyian rumah. Namun tak ada jawaban sama sekali. “Mungkin Ibu sedang pergi ke pasar.”, gumam Nadia.

      “Yaaaah… Ayaaaah…”, juga tak ada jawaban dari ayahnya. “Apakah ayah sudah berangkat ke kantor?”,gumam Nadia lagi.

      Lalu Nadia pun duduk di kursi meja makan, namun dia melihat makanan terletak di meja makan, tak seperti hari-hari biasanya. “ Apa Ibu terlalu sibuk hari ini sampe ‘ nggak nyiapin sarapan buatku?”, gumam Nadia yang masih heran dengan keadaan pagi ini. Segera dia ambil tas dan map plastik bergambar micky mouse yang sudah disiapkan untuk ke sekolah. Meski tanpa berpamitan kepada ayah dan ibunya, Nadia segera menuju ke garasi namun ternyata motor scoopy yang biasa dikendarai ke sekolah tidak ada di tempat. Nadia pun jadi bingung. “Kemana motorku? Apa dipinjem Ibu ke pasar? Tapi kok gak bilang ya?”, kata Nadia dalam hati. “Aaah, ya udah’lah, naek angkot juga bisa”

      “Sopir angkot tu pada buta kali ya? Ada penumpang kok malah ngeloyor aja!! Udah capek berdiri.”, gerutu Nadia. Tidak berapa lama datang Tante Rina, tetangga Nadia,

      Nadia menyapa tante Rina, “Tante”. Namun tak disangka, Tante Rina yang biasanya ramah sama Nadia, justru berbalik 180°. Tak ada jawaban satu kata pun darinya, senyum pun tak ada. Justru ia sibuk dengan handphonenya. Sepertinya handphonenya masih baru, mungkin karena itu Tante Rina jadi super cuek sama Nadia. Nadiapun diam kembali dan konsentrasi lagi untuk menyegat angkot dan mulai melambai-lambaikan tangan dengan gemulai. Setelah tiga angkot yang lewat tanpa mempedulikan, Nadiapun mulai menyerah. “Sulit banget sih nyegat angkot?!?!..”, gumamnya dengan dongkol sambil mengusap dahi yang sudah mulai berkeringat. Kemudian dia melihat Tante Rina melambaikan tangan untuk menyegat angkot dan angkot pun berhenti. Sesaat Nadia berpikir, “kenapa ya? Apa sopir-sopir angkot ne pilih-pilih kalo cari penumpang? Giliran Tante Rina aja yang nyegat, langsung berhenti.

      Nadiapun ikut naik ke dalam angkot yang berwana biru itu bersama Tante Rina. Nadia sengaja duduk di sisi dekat pintu, karena Nadia suka mabok darat kalau naik angkot. Aneh Semua Orang Acuh padanya. Tak seorangpun memperhatikan dia. Dilihatnya Tante Rina duduk di sisi pojok angkot dengan masih asyik sama handphone barunya dan sekali-sekali juga telepon. Jadinya ditahan mulut Nadia untuk menyapanya karena takut mengganggu aktivitasnya dengan handphone baru tersebut. Hingga akhirnya sampailah di depan sekolah dan Nadiapun turun.

      Kelas sepi sekali, hampir semua teman-teman satu kelas tidak masuk dan yang ada hanya Sella, Risa, Dian, dan Oza serta Nadia yang duduk sendiri di baris ketiga dari depan dan berjarak agak jauh dari yang lainnya karena mereka memang bukan teman sebangkunya. Tidak berapa lama Pak Danu menuju ke kelas. Dan sesampainya di kelas..

      “ Assalamualaikum, anak- anak. Ayo kita segera berangkat ke rumah duka menyusul teman-teman kalian yang sudah lebih dulu berangkat.” Ajak Pak Danu

      “Ke rumah duka? Siapa yang meninggal, Pak?”, Tanya Nadia penasaran. Namun tak ada jawaban. Di lain sisi, Nadiapun juga memperhatikan Sella yang tak tahu kenapa hari ini terlihat murung ataupun sedih, begitupun dengan tiga sahabatnya. Nadiapun bertanya-tanya dalam hati, “Kenapa tu anak-anak shopaholic mukanya pada sedih gitu ya?”, lalu “ mau nanya pada mereka, tapi tidak jadi karena Pak Danu dan beberapa teman tadi keburu beranjak meninggalkan kelas. Aneh Semua Orang Acuh padaku!! Kok malah pada ngeloyor sih?!?!?”, celoteh Nadia sembari ikut keluar kelas.

      Dari depan gerbang sekolah Nadiapun berniat untuk mampir ke rumah Rizal, pacarnya yang sudah mendampingi Nadia kurang lebih 3 tahun. Usianya memang cukup tua dibandingkan Nadia, terpaut usia 6 tahun. Namun bagi Nadia itu tak jadi masalah, yang terpenting adalah ketulusan cintanya ke Nadia dan orang tua Nadiapun mendukung hubungan mereka. Justru orang tua Nadia menyarankan agar Rizal segera menikahi Nadia saat usia Nadia sudah 21 tahun, kira-kira masih 3 tahun lagi. Alasan yang dikemukakan adalah takut Rizalnya diambil orang lain.

      Nadiapun naik angkot lagi menuju rumah Rizal. Rasanya panas banget di dalam angkot meskipun hanya Nadia saja penumpang yang tertinggal satu-satunya di dalam angkot. Segera diambil satu buah buku tulis yang lumayan tipis dan mulai dikipas-kipaskan ke wajahnya untuk mengatasi suhu panas yang ada di dalam angkot ini.

       Di perjalanan, ada satu hal yang menarik perhatian Nadia. Setelah angkot yang ditumpangi melewati kantor polisi yang tidak jauh dari rumah Rizal, terlihat ada motor Scoopy yang kondisinya rusak banget plus peyok, “kayak’nya motor ini baru kecelakaan deh, parah banget tuh sampai rusak berat gitu”, piker Nadia. Namun setelah diperhatikan lebih jelas, motor itu hampir sama dengan motor yang biasa dikendarai kemanapun Nadia pergi. Mobil itu berwarna dasar pink dan ada stiker mickey, sama seperti kepunyaan Nadia. Hanya saja motor itu memiliki bercak-bercak coklat bekas cipratan lumpur dan ada sedikit bercak-bercak berwarna merah gelap hampir serupa dengan bekas darah yang telah mengering. Namun segera Nadia hilangkan pikiran itu karena Nadia sudah sampai di tempat tujuan.

      Nadia pun melompat dari angkot gila itu. “ Emang sopir angkot edaaan, gak lulus ujian SIM kali ya”, celotehku sambil membersihkan rok abu-abuku yang sedikit kotor gara-gara Nadia terjatuh pada saat turun dari angkot. Habisnya Nadia sudah bilang buat berhenti, tapi sopirnya tetep aja melaju, akhirnya Nadia lompat. Tapi ada untungnya juga, Nadia jadi gak usah bayar.

      Gerbang putih yang sudah kusam itu terkunci dengan gembok berukuran sedang. “Tumben-tumbennya ne pager digembok. Apa Rizal lagi pergi kali ya?!?! Tapi kok gak sms aku sih?”, bisik Nadia dalam hati. Aah ya sudah, lebih baik aku langsung pulang aja. “Mungkin jalan kaki lebih baik”, piker Nadia sambil bebalik meninggalkan rumah Rizal yang terlihat sepi.

      Langkah menuju rumah pun udah gak seberapa jauh, kira-kira delapan rumah lagilah Nadia bisa sampai di depan rumah. Dipercepat langkahnya karena Nadia sudah tak sabar untuk sampai di rumah. Tubuh yang sudah penuh dengan keringat serta tenggorokan yang mulai membutuhkan cairan pun semakin tak sabar untuk segera melepas semua kostum pelajarnya dan mengisi mulutku dengan air putih yang segar. Namun kecepatan langkahnya semakin berkurang. Dilihatnya banyak mobil dan sepeda motor yang terpakir tidak beraturan di pinggir jalan depan rumah.” Ada apa ya?”, Tanya Nadia heran.

     Nadia semakin heran melihat bendera putih berpalang biru berkibar di atas pagar rumahnya. Namun langkahnyapun semakin cepat hingga kakinya telah melangkah masuk ke dalam pagar dan melihat banyak orang berkumpul di rumah. “ Ada apa ini?”, Tanya Nadia dengan perasaan yang tak karuan sambil melihat sekelilingnya. Semua wajah hanya kaku tanpa ekspresi yang menunjukkan senyum yang berarti. Justru ekspresi sedih yang hanya ditampakkan. Dilihat Rani dan hampir semua teman kelasnya ada di sisi samping halaman rumah. Dihampiri mereka. “ Ran, ada apa ini? Siapa yang meninggal?”, tak ada jawaban sepatah katapun dari bibirnya yang tertutup rapat dengan wajah yang ditundukkan ke bawah.” Raaann..Kamu jawab dong..”,pinta Nadia dengan mata yang mulai panas, entah karena apa. Dia bertanya pada teman-taman lain, namun Aneh Semua Orang Acuh dan tidak ada yang mau menjawab.

      Dipejamkan matanya sesaat untuk menetralkan keadaan matanya. Saat dibuka matanya kembali, Nadi melihat Rizal duduk di sudut belakang halaman rumah. Terlihat dari jauh bahwa ia sangat sedih. Dihampiri Rizal dan semakin jelas bagaimana keadaan Rizal saat ini. Mata yang memiliki tahi lalat itupun mengeluarkan air matanya dengan deras hingga pipinya yang menggemaskan itu basah. Nadiapun merasa matanya kembali merasa panas karena melihat Rizal dengan keadaan seperti ini. Segera diletakkan tas dan map disamping pot bunga bougenvil dan Nadia segera duduk disampingnya. “ Sayang, kenapa kamu nangis?”, tanya Nadia dengan suara yang agak sedikit bergetar. Tak ada jawaban sedikitpun dari bibirnya justru tangisnya yang semakin menderu.”Sayang..ada apa ini? Jawab dong, jangan bikin Nadia penasaran.”, Tanya Nadia lagi dengan mata yang sudah meneteskan air mata tanpa bisa dibendung lagi dan disentuh tangan Rizal. Tapiii………

      “Oh, Tuhan, kenapa aku? Di mana ragaku? Kenapa aku gak bisa menyetuhnya.”, rintih Nadia sambil berdiri, ditinggalkan Rizal sendiri dan berjalan ke dalam rumah. Terlihat ayahnya sedang memeluk ibu Nadia yang ternyata sejak tadi sudah menangis dan sesekali Nadia melihat ibunya juga jatuh pingsan. Dilihatnya disisi kiri ruang tamu dan ternyata ada sesosok tubuh Nadia berselimutkan kain putih, gadis yang malang. Tak lain itu adalah tubuh Nadia. Raga Nadia telah mati dan jiwanya tak dapat lagi menghidupkannya. Dihampiri raga Nadia dan tersungkur Jiwa Nadia disisinya. “Kini, Nadia tak lagi bisa membahagiakan ayah sama ibu. Nadia tak lagi bisa mewujudkan mimpinya untuk menikah dan mendampingi Rizal serta menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Tuhan mengapa ini terjadi?”, tangisnya membahana seluruh alam yang tak tahu harus dia namakan alam apa.

Jiwa Nadia teringat kejadian tadi pagi.

      Pagi-pagi benar sekitar pukul 04.00, Nadia bangun dan segera menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu, segera dia berganti pakaian dengan t-shirt bergambar Donal Bebek dan celana training berwarna hitam. Tak lupa dikenakan sepatu olahraga yang berwarna putih bervariasi dengan warna biru laut.

      Tepat pukul 04.30, Nadia segera menuju garasi dan segera menghidupkan motor Scoopynya dan pergi ke rumah Rizal. Pagi ini, Nadia memang punya janji untuk berolahraga pagi ke alun-alun kota, seperti hari-hari biasanya. Tak tahu kenapa ada sesuatu yang aneh terjadi pada motor yang dikendarainya itu. Dan setelah dia sadari ternyata rem motornya blong. Nadiapun panik, Nadia tak tahu harus bertindak apa?

      “ Tuhan, tolong aku!!!!”, jerit Nadia dalam kekalutan diatas motor.

      Namun dari arah berlawanan, dilihat sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi, Nadiapun tak bisa menghindarinya. Nadiapun tertabrak. Entah bagaimana keadaan dia selanjutnya. Yang dia tahu, kini Nadia telah pergi untuk selama-lamanya. Meski Nadia telah tiada di dunia, tapi Nadia percaya. Nadia akan tetap hidup di hati keluarga dan di hati Rizal.

Itulah cerita pilu tentangAneh Semua Orang Acuh. (baca juga : Hikmah Dibalik Air Telaga)

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *