Jernihkan Pikiran dalam Menuntut Ilmu

Jernihkan Pikiran dalam Menuntut Ilmu

Jernihkan Pikiran dalam Menuntut Ilmu

      Pada suatu kerajaan, tinggallah seorang pangeran yang sombong, egois, malas dan kurang sopan santun. Hal itu terjadi karena pangeran tersebut dimanjakan oleh ibu permaisuri mengingat kesibukan sang raja dalam menjalankan pemerintahan kerajaan. (Baca juga : Pengorbanan Total Seorang Ibu)

      Mengetahui perkembangan sang pangeran, Raja sangat sedih memikirkan sikap pangeran muda. Bagaimana nasib negeri ini nantinya jika dia menyerahkan mahkota raja kepada pangeran yang mempunyai sikap sombong, egois, malas dan kurang sopan santun tersebut?

      Untuk itulah sang raja ingin menguji sang pangeran. Setelah berbincang dengan permaisuri, raja pun bertitah: “Anakku, tahta kerajaan akan ayah serahkan kepadamu, tetapi dengan syarat engkau harus tinggal dan belajar selama satu tahun di atas bukit bersama seorang guru yang telah ayah pilih. Bila engkau gagal, maka tahta kerajaan akan ayah serahkan kepada orang lain.”

      Mendengar titah sang raja, Pangeran serta merta menyanggupi persyaratan itu. Dalam hati ia berkata, “Apalah artinya penderitaan satu tahun dibandingkan kelak sebagai raja, aku bisa hidup mewah dan bersenang-senang seumur hidupku!”

      Setibanya di kediaman sang guru, tingkah laku pangeran tetap sombong, menyebalkan, dan tidak sopan. Dia merasa sebagai pangeran, semua orang harus menuruti kemauannya. Setiap kali gurunya bertanya, pangeran menjawab semaunya. Setiap kali gurunya menerangkan pelajaran, pangeran tidak mendengarkan. Hal ini sudah diketahui oleh merasa yang tinggal di perguruan tersebut.

      Tidak terasa haripun berganti minggu. Sang guru berpikir keras tentang cara untuk memberi pelajaran kepada pangeran yang sombong dan sok pintar itu.

     Suatu hari, sang guru menyeduh teh dan menuangkan ke cangkir pangeran. Air teh dituang terus dan terus hingga tumpah ke mana-mana sehingga mengenai tangan sang pangeran. Pangeran berteriak marah, “Hai, bodoh sekali! Menuang teh saja tidak becus! Cangkir sudah penuh mengapa masih dituang terus? Air mendidih, lagi!”

      Dengan tersenyum sang guru berkata tegas, “Beruntung hanya tangan pengeran yang terkena percikan teh panas. Sebagai seorang pangeran, calon raja dan suri tauladan bagi rakyatnya, tidak sepantasnya berkata tidak sopan seperti itu, lebih-lebih kepada gurunya sehingga sepantasnya mulut pangeranlah yang harus dituang teh panas ini. (Baca juga cerita lain pada : SAJADAH TERAKHIR PEMBERIAN IBU)

      Aku sengaja menuang terus cangkir yang telah terisi penuh karena ingin mengajarkan kepada Yang Mulia bahwa cangkir teh diumpamakan sama seperti otak manusia. Bila telah terisi penuh maka tidak mungkin diisi lagi. Karenanya kosongkan dulu cangkirmu, kosongkan pikiranmu, Jernihkan Piikiran dalam Pelajaran agar bisa diisi hal-hal baru yang positif. Hanya bekal ini yang ingin guru sampaikan. Bila pangeran tidak berkenan, silakan pergi dari sini.”

      Mendengar perkataan sang gurunya yang tegas, pangeran seketika tertunduk malu. Peristiwa itu menyadarkan pangeran untuk mengubah sikapnya dan Jernihkan Piikiran dalam Menuntut Ilmu, diapun dengan tekun menerima pelajaran dari gurunya. Tentu saja perubahan sikap pengeran ini membuat raja sangat bergembira.

      Itulah postingan cerpen tentang Jernihkan Pikiran dalam Menuntut Ilmu yang dapat kami bagikan pada kesempatan kali ini dengan harapan semoga postingan cerpen tentang Jernihkan Pikiran dalam Menuntut Ilmu diatas dapat bermanfaat bagi kita sebagai bahan renungan kita. (Baca juga cerita lain dalam versi Bahasa Inggris pada : King and Daughter of a Rebel Leader

Related posts:

2 Replies to “Jernihkan Pikiran dalam Menuntut Ilmu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *