Cinta yang tak Sempat Terucap

Cinta yang tak Sempat Terucap

Cinta yang tak Sempat Terucap

      Cerita Cinta yang tak Sempat Terucap diawali Pada suatu hari pada suatu perkemahan antar SMA se kabupaten, terjadi pertemuan antara seorang siswi yang bernama Wanda dengan siswa yang bernama Fikri. Mereka berasal dari sekolah yang berbeda namun sama-sama sebagai peserta kemah tersebut. (Baca juga : Jodoh Tidak Akan Tertukar)

      Sebenarnya letak tempat kemah Fikri dan Wanda tersebut sebenarnya cukup jauh, tetapi karena mereka sering apel pagi bersama seluruh siswa, akhirnya tatapan-tatapan kecilpun tidak terhindari. Perlahan Fikri mulai berani mendekati Wanda jika ada waktu senggang istirahat. Tetapi belum berani untuk berkenalan, Fikri hanya tersenyum kecil jika lewat didepan Wanda. Akhirnya setelah beberapa kali bertemu dan saling melempar senyum, mereka berkenalan.

“Hei, hari ini panas banget ya?” ucap Fikri membuka percakapan.

“Iya panas nih, mungkin karena gunung ini udah gundul kali ya, makanya panas.” Jawab Wanda.

“Anyway, kita belum kenalan kan? Nama aku Fikri. Nama kamu siapa?”

“Namaku Wanda”

      Begitulah proses perkenalan mereka yang sangat singkat tersebut akhirnya membuat keduanya semakin dekat dari hari kehari. Kemah sudah hampir satu minggu mereka laksanakan, dan keduanya juga semakin akrab. Sampai akhirnya mereka berdua harus terpisah karena kegiatan kemah telah usai. Namun pada malam keakraban sebelum kemah berakhir Fikri sengaja berada disamping Wanda agar jika mereka tidak bertemu lagi, maka tidak ada kesedihan karena rasa rindu.

“Wanda, kalo kegiatan ini udah kelar, kita masih bisa ketemu lagi ga’ ya?” Tanya Fikri.

“Aku juga ga tau Fikri, tetapi kalo emang kita ga’ bisa ketemu lagi, gimana?” Jawab Wanda.

“Yang pasti aku bakal kehilangan kamu banget” Fikri terlihat sedih dengan mengatakan hal tersebut.

      Begitulah malam keakraban mereka lalui dengan kesedihan karena kemah akan usai besok dan mereka akan segera kembali ke sekolah masing-masing.

      Esok hari pun tiba, saat dimana mereka harus segera persiapan untuk pulang. Fikri yang masih merasakan sedih akhirnya memiliki niat untuk menembak Wanda untuk dijadikannya seorang pacar, agar mereka bisa terus bertemu jika keduanya telah sama-sama sudah kembali kerumah. Didekatinya Wanda yang saat itu sedang mengepak pakaiannya.

“Boleh ngomong sebentar ga’?” Fikri mendekat.

“Boleh, ngomong aja Fikri, ada apa?” Wanda berdiri dan mendekat ke Fikri yang ada di luar camp.

“Tapi ga disini, bisa kita kedepan sebentar?”

“Oh, yaudah, yuk!”

      Mereka berdua kedepan camp dan disitulah Fikri mengatakan bahwa dia sayang kepada Wanda. Akhirnya mereka berdua berjanji akan selalu saling berkomunikasikarena Wanda ternyata juga menyukai Fikri. Dengan bertukar nomor handphone dan alamat rumah, mereka berharap akan bisa menjalin hubungan yang langgeng nantinya.

      Kegiatan camp sudah berlalu sekitar 2 hari, Wanda dan Fikri juga seperti biasa melakukan aktifitasnya masing-masing dengan tetap saling menjaga komunikasi mereka berdua.

      Sejak hari pertama mereka sampai dirumah, Fikri sudah main kerumah Wanda. Dia juga berkenalan dengan orang tuanya yang terlihat sangat ramah kepada Fikri.

“Tau ga aku bawa apa?” Tanya Fikri

“Bawa apaan sih, kok repot-repot?” Wanda seakan melarang Fikri membawa sesuatu.

“Pejamkan mata dulu dong, nanti baru aku kasih surprisenya”

“Oke, deeehhh…”

“Nah sekarang ayo buka mata..!!!”

“Ya ampun Fikri kok sampe segitunya sih” Jawab Wanda yang terlihat bahagia karena dibawakan sebuah bonek pink yang lucu.

      Begitulah kejadian hari pertama yang sangat berkesan untuk keduanya karena sudah 2 hari sejak camp mereka tidak bertemu.

      Sejak hari pertama itulah Fikri menawarkan Wanda untuk menjemputnya tiap hari jika berangkat kesekolah.

      Mereka tersenyum bahagia setiap hari karena bertemu dan bercanda bersama. Rasa sayang dan cinta semakin dalam mereka rasakan satu sama lain. Namun belum ada yang berani mengucapkan kata “CINTA”. Sampai dengan hari ke 56 mereka bersama atau tepatnya hampir 2 bulan mereka bersama. Tidak lupa Fikri juga selalu membawa sebuah boneka tiap hari mereka bertemu.

      Walaupun mereka berdua selalu bersama dan terlihat bahagia, sedikitpun Fikri tidak pernah mengatakan “Aku Sayang Padamu” atau “Aku Cinta padamu” kepada Wanda. Wanda-pun merasa semakin lama tidak nyaman karena hal tersebut, padahal dia sangat mencintai Fikri.

      Suatu ketika saat Fikri main kerumahnya, Wanda berkata kepada Fikri.

“Fikri, kamu sayang ga sih sama Wanda?”

“Ehmm, Aku….aku pulang dulu ya, ini bonekanya buat kamu”

“Lho kok malah pulang?”

      Wanda tidak habis pikir, kenapa Fikri tidak mau mengatakan sayang atau cinta kepada dirinya. Saat ditanya sayang atau ga, malah Fikri bergegas pulang. Sampai terbesit dalam pikiran Wanda, apakah Fikri tidak serius sayang kepada dia ya?

      Lalu tiba akhirnya Wanda yang akan merayakan hari ulang tahunnya yang ke 17 tahun, dan besar harapan Wanda agar Fikri bisa datang ke hari tesebut. Karena ini merupakan hari yang sangat penting bagi dirinya, Wanda berpikir tentu Fikri akan memberikan sebuah surprise yang sangat indah sepanjang hidupnya.

      Ulang tahun Wanda jatuh 2 hari lagi, dirinya terlihat selalu bahagia saat bersama dengan Fikri.

“Kamu kenapa sih kok senyum-senyum terus”

“Ah ga pa2 kok, cuma seneng aja”

“Oh”

      Begitulah Fikri yang terlihat sangat dingin menjawab kebahagiaan Wanda. Lalu tiba saatnya ulang tahun Wanda yang ke 17 yang tepat jatuh pada hari minggu. Dengan mengenakan sebuah gaun pesta yang cantik, Wanda menyambut semua tamu undangan yang pada sore itu datang kerumahnya, karena memang acaranya berlangsung pada sore hingga malam.

Sudah pukul 8 malam, Fikri belum terlihat datang di pesta ulang tahun Wanda. Dia mulai cemas dan berpikir sesuatu yang buruk mungkin terjadi kepada Fikri.

      Waktu terus berjalan, dan semua tamupun telah pergi karena acara telah usai. Wanda semakin cemas dan tidak karuan karena Fikri tidak kunjung tiba. Dia mencoba menelpon ke no handphone Fikri tetapi tidak aktif.

      Dengan perasaan campur aduk, Wanda terus menunggu Fikri yang belum datang tersebut. Sembari berdoa dia juga berpikir, “Apa Fikri lupa hari ulang tahunku?” begitulah yang dipikirkan oleh dirinya.

      Pagi pun tiba, Wanda yang saat itu tertidur di sofa depan tidak menemukan Fikri datang pada malam hari ulang tahunnya. Sembari menangis karena kecewa akhirnya Wanda segera mandi dan bergegas berangkat kesekolah.

      Hari itu Fikri tidak terlihat menjempur Wanda seperti biasanya. Merasa aneh dan seakan masih kurang percaya Fikri lupa dengan hari ulang tahunnya, dia akhirnya memutuskan untuk mampir kesekolah Fikri terlebih dahulu sebelum berangkat kesekolahnya.

      Sesampainya di sekolah, apa yang Wanda temukan? ternyata Fikri sedang bercanda dengan teman-teman wanitanya sembari tertawa seakan mereka akrab satu sama lain. Wanda yang melihat pemandangan yang menyakitkan tersebut akhirnya mendekati mereka dan marah kepada Fikri.

“Oh jadi gini ya kelakuan kamu selama ga sama aku?”

“Wan..Wanda?”

      Dengan marah Wanda segera bergegas pergi meninggalkan mereka. Anehnya Fikri tidak mengejar Wanda yang marah karena peristiwa tersebut. Wanda yang menangis saat itu seakan tidak diperdulikan oleh Fikri.

      Seharian dari sepulangnya Wanda dari sekolah, hanya menangis karena sakit hati kepada Fikri. Dari pagi sampai malam dia hanya menangis terus menerus dengan masih terpikir peristiwa tadi pagi saat Fikri bersama dengan wanita lain.

      Sudah berkali-kali Fikri menelpon tetapi Wanda mengabaikan panggilan dari Fikri tersebut dan berjanji tidak akan pernah mau lagi bertemu dengan Fikri sampai kapanpun.

      Lalu selang beberapa jam, bel sepeda motor berbunyi dari luar rumah Wanda. Wanda yang saat itu memang belum tidur mendapat pesan singkat yang berbunyi “Tolong kamu keluar sebentar Wanda, aku mau ngomong sama kamu”.

      Wanda yang memang sangat mencintai Fikri akhirnya tidak menolak untuk keluar rumah untuk menemui Fikri yang saat itu berada diluar rumah.

“Mau apa lagi kamu?! ga puas kamu udah nyakitin aku hari ini” Tegas Wanda dengan nada tegas dan marah.

“Aku mau minta maaf sama kamu” Jawab Fikri dengan nada lemah.

“Maaf kata kamu?! kamu ga sadar sudah buat aku sakit seperti ini?!”

“Wanda, aku…mau ngasih ini ke kamu….”

      Fikri membawa sebuah boneka besaaaar sekali yang tidak biasanya boneka yang dia berikan kepada Wanda. Tetapi Wanda semakin marah besar kepada Fikri.

“Buat apa lagi kamu bawain boneka lagi ke aku? apa dengan membawa boneka itu, aku akan memaafkan kamu Fikri? TIDAAAAKKK….!!!”

      Dengan merebut bonek yang dipegang oleh Fikri, dibuangnya kejalan boneka tersebut.

      Dengan perasaan sedih Fikri kaget dan perlahan berjalan menuju ke boneka tersebut berniat mengambilnya.

      Tiba-tiba terdengar dari jarak jauh sebuah mobil yang melaju kencang mengarah ke Fikri yang tepat berada ditengah sedang mengambil boneka tersebut. Lalu….”BRAAAKKK…!!!!” Fikri tertabrak dan Wanda berteriak, TIDAAAAAKKKK….!!! FIKRIIIIIIIIIIII…..!!!

      Mobil tersebut menghempaskan tubuh Fikri sampai beberapa kilometer. Fikri meninggal dunia seketika karena pendarahan pada bagian kepalanya. Wanda seketika itu pingsan dan orang-orang yang berada disekitar segara mengamankan tubuh Fikri yang sudah tidak bernyawa lagi.

      Fikri telah tiada, hanya sebuah kenangan Wanda akan kepedihan yang tidak akan pernah kembali untuk selamanya. Wanda merasa sangat bersalah karena dirinya lah yang menyebabkan kematian orang yang paling dia sayangi.

      Lalu sembari menangis, dia kembali mencoba mengenang semua kenangan indah bersama dengan Fikri. Dilihatnya sekeliling kamar sambil meneteskan air mata, kamar yang penuh dengan boneka-boneka pemberian Fikri. Dengan bertambah sedih Wanda memeluk boneka tersebut erat-erat, tiba-tiba “I LOVE YOU…” “I LOVE YOU…”

“hah?” Wanda kaget…

      Dari perut boneka tersebut berbunyi “I LOVE YOU” Lalu Wanda mulai memencet perut boneka lainnya lalu, “I LOVE YOU” semakin tidak percaya dipencet lah semua perut boneka pemberian dari Fikri yang berjumlah 59 boneka tersebut. Semakin deras air mata Wanda, “kenapa aku ga sadar klo selama ini Fikri selalu ingin mengatakan cinta kepadaku lewat boneka-boneka yang ia berikan kepadaku?”

      Lalu Wanda mengambil boneka yang paling besar dan merupakan boneka yang ke-60 pemberian Fikri kepada dirinya sebelum Fikri meninggal. Dipencetnya pula perut dari boneka tersebut. Lalu terdengarlah rekaman suara Fikri, dia mengatakan seperti ini”

“Melaui boneka ini akau samaikan tentang Cinta yang tak Sempat Terucapkan. Sudah 60 hari kita bersama Wanda, tetapi sampai hari ini pun aku belum bisa mengatakan kata cinta kepadamu. Tiap hari aku berharap bahwa boneka ini bisa mewakili kata cintaku tersebut untuk dirimu, tetapi ternyata kamu tidak pernah menyadarinya. Aku tahu bahwa aku adalah seorang pengecut, tetapi yang perlu kamu tahu bahwa melaui boneka ini aku sampaikan Cinta yang tak Sempat Terucap. Aku katakan kalau aku….cinta….kamu sampai akhir hayatku”

      Begitulah rekaman suara Fikri yang dia berikan sesaat sebelum Fikri kecelakaan dan merenggut dirinya. Wanda menangis dan tidak pernah akan mendapatkan kembali sosok Fikri yang ternyata sangat-sangat mencintainya, tetapi Cinta yang tak Sempat Terucap.. Akhirnya Wanda kembali pingsan

TAMAT

       Itulah postingan cerpen tentang Cinta yang tak Sempat Terucap yang dapat kami bagikan dengan harapan semoga Cinta yang tak Sempat Terucap diatas dapat menghibur kita. (baca juga cerita lain dalam versi bahasa Inggris pada : EMOTION UNDER CONTROL)

Related posts:

One Reply to “Cinta yang tak Sempat Terucap”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *